10
Okt
15

KEMERDEKAAN HAKIM

Januari 1960
Yang Mulia Suparni berdebat dengan Bung Karno
Tentang penghukuman
tentang pertanyaan seberapa berat hukuman bagi para penyelundup
Bagi para penjahat ekonomi

“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, Bapak Presiden..”
”Saya harus menimbang kompleksitas faktual sepenuhnya perkara itu sebelum menjawab”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau kamu mendapat perintah langsung dari Presiden?” tanya Bung Karno
“ Oh, bukankah kemandirian kehakiman melarang hal semacam itu?”

Bersamaan dengan layar-layar retorika revolusi mulai tercabik-cabik
Lalu doktrin pemisahan kekuasaan mulai dipersoalkan
Bung Karno sudah lama gusar
Sadar bahwa jiwa-jiwa yang mendiami raga beberapa hakim tetap ingin bebas
Namun bagi Bung Karno
Para hakim harus dicabut dari akar kolonialnya
Satu hal yang selama ini menjadi ganjalan

Pertengahan tahun 1960-an
tahun-tahun yang sulit
Bung Karno kembali mengibarkan retorikanya
“Kalian adalah hakim rakyat dan hakim revolusi!,
kalian adalah alat sejati revolusi!
Hakim sebagai alat revolusi harus tahu
siapa kawan dan siapa lawan revolusi.
Mereka harus bisa membuat perbedaan yang jelas
menunjukkan sikap yang tepat kepada kawan dan lawan revolusi”

Toga disingkirkan, diganti seragam revolusi
di bawah retorika pengayoman
hakim bekerja untuk kepentingan revolusi
revolusi yang lebih penting dari hukum itu sendiri

Sejarah limapuluh tahun yang lalu
hingga sekarangpun seolah belum berlalu
Banyak yang lupa
dalam hati setiap hakim Indonesia
disanalah tersimpan jiwa-jiwa yang merdeka
Pasang dan surut spirit mereka
membentuk garis-garis sejarah yang penuh ironi

Apakah kini hakim-hakim Indonesia mengenal baik kawannya?
Apakah kini hakim-hakim Indonesia mengenal baik lawannya?
Tak ada lagi Bung Karno yang marah-marah
tak peduli di depan hakim, jaksa, polisi
karena yang penting adalah revolusi
Jangan jadi Oldefo!

sejarah akan terus mencatat perjuangan kemerdekaan para hakim
entah….
merdeka dari apa?
membebaskan diri dari siapa?

Situbondo, 5 Januari 2015

Catatan : Sebagian isi dari tulisan ini dikutip dari buku Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung ( judul asli : The Indonesian Supreme Court, A Study of Institutional Collapse) yang awalnya merupakan disertasi yang ditulis oleh Sebastiaan Pompe di tahun 1996.


2 Responses to “KEMERDEKAAN HAKIM”


  1. 1 Syihabuddin
    Oktober 10, 2015 pukul 1:22 pm

    Mantappp Bli…
    Mg sehat, dlm limpahan keberkahan dan bisa terus berkarya!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: