03
Jul
15

NASIHAT

Dulu, awal-awal bertugas sebagai hakim, perasaan saya bangga sekali. Wajarlah, setiap orang pasti bangga dengan pekerjaan yang disukai. Segera merasa hebat, apalagi dengan jubah toga tiga warna itu.

Di ruang sidangpun duduknya di tempat yang paling tinggi. Terdakwa atau saksi-saksi yang sedang diperiksa harus mendongak sedikit jika tempat duduk mereka terlalu dekat dengan meja majelis hakim. Tidak tahan jika tidak mengeluarkan nasihat, baik itu kepada saksi atau terdakwa. Wajar sih, hanya saja, lama kelamaan saya merasa harus menguranginya.

Nasihat-nasihat tertentu saya kurangi. Misalnya, jika ada saksi yang seharusnya curiga terhadap perilaku terdakwa, atau ketika bekerja kurang serius, lalai atau cuek sehingga memberikan peluang terjadi kejahatan atau hal-hal lain yang memudahkan orang lain melakukan kejahatan. Atau misalnya ada terdakwa yang membantu temannya melakukan kejahatan, diberikan nasihat bahwa ia seharusnya melaporkan hal itu kepada penegak hukum bukan malah membantu atau ikut-ikutan, dan lain sebagainya.

Di setiap daerah, biasanya ada jenis tindak pidana tertentu sering terjadi. Mirip seperti penyakit yang sifatnya endemis. Terjadinya sangat dipengaruhi salah satu pola perilaku tertentu dari kelompok masyarakat dari tatatan sosial atau ekonomi yang lebih besar. Misalnya begini, maraknya kejahatan penggelapan atau penipuan dengan target barang tertentu seperti misalnya kendaraan bermotor, disebabkan karena ada pola perilaku kelompok masyarakat lain yang mudah memberikan pinjaman uang dengan jaminan kendaraan (kadang berdalih gadai), walaupun tanpa disertai dengan BPKB atau surat keterangan lain yang menunjang. Jadi perilaku masyarakat antara sekedar lalai atau kurang hati-hati tanpa ada itikad buruk dengan melakukan tindak kejahatan semacam penadahan menjadi tipis sekali. Disitulah kadang saya merasa masih tetap harus mengingatkan masyarakat. Tujuannya agar kejahatan jenis itu tidak terus meningkat atau sekaligus memberikan sinyal kepada Penuntut Umum bahwa tekanan kepada perilaku masyarakat yang berperan menyuburkan kejahatan itu juga harus ditingkatkan. .

Kalau kepada Terdakwa, saya sudah jarang sekali menasihati. Mereka sudah saya anggap pintar menasihati diri sendiri. Apalagi saya perhatikan tren penampilan sebagian besar Terdakwa yang dihadapkan ke persidangan sudah sangat religius. Ada yang secara mencolok menyelipkan bunga di telinga dan bija (beras yang direndam di air kemudian setelah sembahyang ditaruh di dahi), mungkin supaya kelihatan habis sembahyang. Ada yang sengaja menggunakan songkok dan baju koko, atau memakai atribut-atribut lain yang menunjukkan tampilan religius.

Terlebih lagi, menurut saya, seorang terdakwa sebelum melakukan kejahatannya, punya banyak waktu, mulai dari mendapatkan ide, merencanakan segala sesuatunya. Jika berhasil apa yang akan dilakukan, termasuk jika gagal. Sampai kepada waktu untuk membatalkan niatnya itu. Saya yakin pasti ada dorongan dari dalam dirinya untuk mengurungkan niat melakukan kejahatan, tapi mungkin tidak terlalu kuat. Jadi saya pikir, dengan sudah dimasukkan ke dalam tahanan, kemudian sudah rajin sembahyang, nasihat saya sudah tidak akan mereka perlukan lagi.

Selain keadaan-keadaan di atas, yang membuat saya ‘lemah syahwat’ untuk memberikan nasihat adalah, lama-lama saya kok khawatir, jangan-jangan saya sendiri tidak sehebat nasihat saya itu jika berada dalam situasi seperti yang dialami orang-orang yang saya nasihati. Jangan-jangan saya cuek saja saat melihat ada kejahatan, ada perilaku korup di tempat saya bekerja. Atau berpikir “ngapain ngurusin urusan atau dosa orang lain” (padahal dosa itu merugikan banyak orang). Jangan-jangan saya kerjanya juga tidak beres. Apa yang seharusnya saya ketahui, malah tidak saya ketahui, apa yang seharusnya saya lakukan, tidak saya lakukan. Semakin lama, dugaan-dugaan seperti itu makin menghujami diri saya, entah darimana datangnya. Kadang-kadang jengkel juga, mengganggu! Tapi anehnya, saya membiarkannya.

Akhirnya, saya pikir saya tidak akan main-main lagi dengan nasihat, saya harus mempertimbangkan dan memastikan banyak hal dulu sebelum mengeluarkannya.

Salam


0 Responses to “NASIHAT”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: