06
Des
13

 

LIMA PULUH JUTA RUPIAH DOSAKU,

SATU MILYAR RUPIAH DOSAMU,

SATU MILYAR RUPIAH DOSA MEREKA

Sudah empat tahun berlalu sejak hiruk pikuk berita penangkapan I Komang Yuris, tetangga Wayan Kalasnikov yang seorang Hakim itu. Setahun yang lalu, seminggu setelah Pak Komang keluar dari penjara, ia tiba-tiba menemui Wayan Kalasnikov, tujuannya khusus untuk meminta maaf atas kelakuannya, minta maaf karena ia telah melakukan korupsi, satu perbuatan  yang membuat teman baiknya di lingkungan itu kecewa berat.

Hari itu, Wayan Kalasnikov sedang sibuk membuka penjor dan semua gantung-gantungan yang ada di areal rumahnya. Semua perlengkapan itu dibuat dan digunakan dalam rangka hari raya Galungan dan Kuningan. Di Bali memang ada waktu khusus kapan perlengkapan itu baru bisa di lepas, dibersihkan, lalu bagian tertentu disimpan untuk kemudian digunakan lagi 6 bulan kemudian.

Ketika membersihkan bambu penjor, ia dikejutkan oleh suara dari arah belakang yang menyapanya, suara perempuan.

“Om Swastyastu Pak Wayan…”

Wayan kaget ketika memalingkan wajah dan melihat siapa yang ada di belakangnya.

“Oh…Om Swastyastu Bu Komang…wah..” Wayan menjadi salah tingkah berhadapan dengan Bu Komang, istri Pak Komang Yuris, selain sudah lama tidak saling berkabar, saat itu Wayan juga hanya mengenakan celana pendek dan kaos singlet, bolong pula disana sini.

“Mari Silahkan masuk dulu Bu, maaf saya sedang bersihkan penjor… Buu….Ibuu..” Wayan memanggil istrinya yang sedang ada di dapur.

“Ada Bu Komang…, silahkan masuk Bu, maaf ini, berantakan sekali…” Wayan segera membereskan mainan anaknya yang ada di ruang tamu.

“ehh Bu Komang, apa kabar? Bu Wayan menyapa dengan ramah

“Baik Bu Wayan, apa kabar juga? Maaf saya mengganggu …”

“Ah, tidak, kok mengganggu…silahkan duduk, tinggal dimana sekarang? Lama tidak bertemu ya..”

Wayan bergegas masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Bu Wayan dan Bu Komang bercakap-cakap di ruang tamu. Sambil berganti pakaian, Wayan menguping pembicaraan istrinya dengan Bu Komang. Ada sebagian yang ia dengar

“Saya bingung bu Wayan, sudah lama suami saya begitu, saya tidak mengerti” bu Komang lalu menangis… “Sabar saja dulu bu”, Bu Wayan berusaha menenangkan.

Setelah berganti pakaian, Wayan lalu keluar dari kamar melihat Bu Komang menangis, ia lalu bertanya. “lho ada apa Bu? Kenapa menangis?”

Bu Komang lalu menceritakan panjang lebar tentang keadaan suaminya

***

Hari minggu itu, seperti janji Wayan Kalasnikov kepada Bu Komang, ia pergi ke rumah tempat tinggal Keluarga Pak Komang. Ia mengajak Made Nyaplir bersamanya. Tidak sulit menemukan rumah Pak Komang, walaupun masuk gang jauh dari jalan utama, tapi alamatnya jelas.

Rumah itu berdiri di atas tanah yang tidak terlalu besar, sekitar dua are, tampilannya sederhana, ada taman kecil di halaman yang terlihat sering dibersihkan, di pojok depan rumah ada bangunan Padmasari dan Pelinggih Rong Telu. Orang Bali biasanya memiliki tempat suci di pojok depan rumah mereka seperti yang ada di sana, walaupun kelengkapannya bisa berbeda-beda. Lingkungan di sekitar rumah itu padat, banyak anak-anak yang berlarian kesana-kemari. Dari keadaan sekitar dan penampilan rumah-rumah di sana, lingkungan perumahan itu sepertinya sudah lama ada.

“Om Swastyastu…” Wayan mengucapkan salam khas Masyarakat Hindu dari luar pagar rumah. Sesaat kemudian muncul seorang perempuan tua, Ia sedikit memicingkan matanya, berusaha melihat dan mengenali siapa gerangan yang ingin bertamu.

“Nyen to Mang…?” begitu tanya orang tua itu kepada seseorang yang ada di dalam rumah, Wayan dan Made diam saja.

Bu Komang kemudian keluar dari pintu masuk rumah, bergegas menuju pintu pagar dan menyapa Wayan dan Made. “Eh, Pak Wayan dan Pak Made, mari masuk pak”

“Terimakasih bu Komang.  Om Swastyastu Bu.” Wayan menyapa Ibu tua yang dari tadi masih saja memicingkan matanya, berusaha mengenali siapa tamu yang datang kerumahnya.

“Ibu mertua saya Pak, ini adalah tempat tinggal Mertua saya. Sudah hampir setahun saya dan suami tinggal disini” kata Bu Komang

“Ohh.. begitu, Pak Komangnya ada bu?”

“Ada Pak, mari saya antar menemui Bapak…”

Jantung Wayan dan Made berdegup lebih cepat, mereka sama sekali tidak punya bayangan bagaimana nanti bersikap saat bertemu dengan Pak Komang, seorang teman baik mereka dulu.

 Setelah sedikit berbasa basi dengan Ibu Pak Komang, Wayan dan Made diantar menuju sebuah kamar.

“Pak, ini ada tamu.. Pak Wayan dan Pak Made” kata Bu Komang pada suaminya

Selama beberapa detik, Wayan dan Made tidak mengerti dengan keadaan yang mereka lihat, mereka tidak melihat sosok Pak Komang Yuris yang mereka kenal dulu, tinggi besar, gagah, rambut yang selalu tersisir rapi, wajah bersinar. Laki-laki yang ada di hadapan mereka terlihat sangat kurus, bajunya lusuh, bercelana pendek, rambutnya agak panjang tapi tidak disisir rapi. Kulitnya banyak yang terkelupas. Ia duduk di atas tempat tidurnya, memandang lantai kamar dengan tatapan mata kosong sambil memegag waslap. Ia tidak menyadari kehadiran Wayan dan Made.

“Pak…ini Pak Wayan dan Pak Made, ingin ngobrol dengan Bapak” kata Bu Komang untuk ketiga kalinya.

Tiba-tiba, Pak Komang mengelap tangannya dengan waslap yang ia bawa, selesai mengelap tangan, ia mengelap kaki dan lehernya, lalu wajahnya..

“Sudah Pakk…jangan dilap terus, kulit Bapak jadi luka kalau begitu terus”

“harus bersih, harus bersih…aku harus bersih, lap dulu…” kata Pak Komang

Bu Komang tidak mampu menahan tangisnya. Sambil menangis ia berkata pada suaminya, “Sudahlah pakk…sampai kapan Bapak begini?”

“Beginilah keadaan suami saya sejak enam bulan yang lalu Pak Wayan, sebelum ini kerjanya hanya menyapu dan mengepel rumah, sehari bisa 10 kali. Sekarang seperti ini, dia terus mengelap tubuhnya, sampai kulitnya luka seperti itu. Saya tidak mengerti pak..”

Wayan tidak mampu berkata-kata, dia juga sedih, tidak percaya orang yang dulu dia kagumi sekarang keadaannya begini. Made sedikit lebih tenang dan memberanikan diri bertanya.

“Kalau makan dan minum sehari-harinya Bapak bagaimana Bu Komang?”

“Makannya sedikit pak, makanya jadi kurus begini”

“Maaf bu, apakah sudah coba di bawa ke Rumah Sakit? supaya bisa ditangani oleh dokter” sambung Made.

“Saya malu pak, saya malu kalau banyak orang tahu suami saya seperti ini, karena itu saya ingin Pak Wayan datang kemari, karena suami saya kadang-kadang memanggil nama Pak Wayan, entah apa yang ada dalam pikirannya…tolonglah pak.” Kata Bu Komang sambil menangis…

“Nak kengken to Mang?” …suara Mertua Bu Komang mengagetkan mereka semua yang ada di kamar.

“Sing Bu..Sing kengken…” sahut Bu Komang menjawab pertanyaan mertuanya

Wayan Kalasnikov memberanikan diri mendekati Pak Komang, dia duduk di sebelahnya. Memperhatikan temannya yang masih sibuk mengelap tangannya dengan waslap yang sudah terlihat mulai kotor.

“Pak Komang..ini saya Wayan, apa kabar?”

Pak Komang berhenti mengelap badannya, sepertinya ia mendengar kata-kata Wayan. Ia mengangkat wajahnya, menoleh kepada Wayan sambil berkata…”Pak Wayan?..Pak Wayan?”

“Iya saya Wayan, teman Bapak, masih ingat kan? Kita sering bercanda di poskamling depan rumah Pak Komang dulu. Ingat poskamling itu rubuh gara-gara kita bernyanyi lagu Bagimu Negeri sambil jingkrak-jingkrak?”

“Pak Wayan….. hu hu h…..hu… lima puluh juta dosa saya…. lima puluh juta dosa saya…” Pak Komang mengatakan hal itu sambil terlihat tersedu

Wayan menoleh pada Made, ia tidak mengerti apa yang dikatakan Pak Komang. Made juga sama bingungnya dengan Wayan. Tapi mereka tidak berani bertanya pada Bu Komang

“Kata-kata itu juga salah satu hal yang tidak saya mengerti sampai sekarang Pak Wayan,apa ada sesuatu yang ia sembunyikan, ia tidak pernah bercerita hal lai selain cerita kenapa ia sampai menerima uang lima puluh juta rupiah yang menyebabkannya sampai dipenjara selama beberapa tahun itu” kata Bu Komang. Ia mengerti kebingungan Wayan dan Made.

“lima puluh juta dosa ku, satu milyar dosa mu, satu milyar dosa mereka…. hu huuu..”

Beberapa detik kemudian Pak Komang kembali diam, dia melanjutkan mengelap badannya. Kulitnya di beberapa bagian mulai terlihat memerah karena terlalu keras digosok. Wayan memberanikan diri memegang tangan kanan Pak Komang, ingin menghentikan perbuatannya menggosok badannya sendiri. Pak Komang diam, ia menunduk tapi tidak berkata apa-apa.

Ruangan itu hening selama satu menit, tidak ada yang mampu bicara apapun. Hanya sesekali terdengar sedu-sedan Bu Komang

Wayan kemudian bersenandung pelan…”paadaamu negeri, kami mengabdi…paadaamu negeri…kami ber..

“Salah Pak Wayan, salah…” Pak Komang tiba-tiba memprotes nyanyian Wayan

“Yang benar bagaimana Pak Komang?”

“Yang pertama berjanji, yang kedua berbakti, yang ketiga baru mengabdi” Kata Pak Komang

“Kalau begitu maukah Pak Komang ikut bernyanyi, saya takut salah lagi”

Bu Komang menahan nafasnya, sesaat dia berpikir bahwa Wayan berhasil membuat suaminya normal kembali…

“lima puluh juta dosa saya, satu milyar dosa mereka… hu huuu….” Pak Komang melepaskan pegangan tangan Wayan, lalu mulai mengelap tangannya lagi….aku harus bersih..aku harus bersih…” katanya sambil terisak lagi

Tangis Bu Komang seketika meledak…

***

Setelah memasuki gapura khas Bali, di sebelah kiri dan kanan terlihat taman dengan rumput yang terawat dan terlihat beberapa pohon cemara hutan yang tinggi menjulang. Jika terus mengikuti jalan aspal yang mengelilingi bangunan itu, di sebelah barat akan terlihat sebuah lapangan tenis sederhana, pinggiran lapangannya ditumbuhi rumput-rumput liar yang agak tinggi. Ada bangunan utama yang cukup luas di sana, selain itu ada juga beberapa kamar-kamar yang dihuni satu atau dua orang

Setiap pagi ada dua orang yang tinggal di salah satu kamar yang punya kebiasaan unik, salah satunya sangat gemar menyebutkan sila-sila Pancasila. Karena kebetulan jendela kamar tempatnya di rawat berhadapan langsung dengan lapangan tenis, maka siapa saja yang sedang bermain tenis disana biasanya akan mendengar dengan jelas ketika ia “mengumandangkan” sila-sila Pancasila itu. Semua sudah maklum dan terbiasa, namun kadang-kadanag ada saja yang masih tertawa mendengarnya.

Setelah selesai menyebutkan sila-sila Pancalisa, ada satu orang lagi yang melanjutkan dengan bernyani lagu Bagimu Negeri, ia menyanyikannya bisa sampai tiga atau empat kali  setiap pagi. Dialah Pak Komang Yuris. Istrinya akhirnya memutuskan untuk membawa suaminya ke Rumah Sakit Jiwa agar mendapatkan perawatan yang lebih baik.

***


1 Response to “”


  1. Desember 6, 2013 pukul 7:45 am

    Keadilan adalah sesuatu yang susah untuk digantikan perannya meskipun oleh uang sekalipun
    kunjungi balik
    Fajar Pamungkas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: