28
Okt
13

GRATIFIKASI

Membahas gratifikasi memang selalu menarik. Para Akademisi dan Praktisi sudah banyak yang menyoroti pengaturan tentang gratifikasi ini dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Salah satunya misalnya mengapa bisa menerima gratifikasi yang dianggap suap tidak akan menjadi tindak pidana kalau dalam jangka waktu maksimal 30 hari melaporkannya ke KPK. Mengapa ancaman pidananya lebih tinggi dari tindak pidana suap yang diatur pada bagian lain. Tapi kita tidak akan bicarakan itu sekarang, terlalu teknis. Kita bicarakan soal lain yang masih sering membuat sebagian pihak kebingungan. Yakni soal gratifikasi mana yang disebut legal, mana yang ilegal. Mana yang harus dilaporkan, mana yang tidak. Untuk mengurangi kebingungan ini, KPK sudah berusaha membantu dengan cara membuat buku saku gratifikasi (bisa di unduh di website resmi KPK).

Untuk menyegarkan ingatan kita, kita mulai dari pengertian gratifikasi sebagaimana dimuat dalam penjelasan pasal 12 B ayat (1) UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri, maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.
Sebagaimana termuat dalam buku saku gratifikasi yang diterbitkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara yang bisa membantu proses identifikasi gratifikasi, antara lain :

  1. Apa yang menjadi motif dari pemberian hadiah yang diberikan oleh pihak pemberi? Jika motifnya adalah ditujukan untuk mempengaruhi keputusan Anda sebagai pejabat publik, maka pemberian tersebut dapat dikatakan cenderung ke arah gratifikasi ilegal dan sebaiknya ditolak. Seandainya karena terpaksa oleh keadaan, gratifikasi diterima, sebaiknya segera laporkan ke KPK
  2. Apakah pemberian tersebut diberikan oleh pemberi yang memiliki hubungan kekuasaan atau posisi setara dengan Anda atau tidak? Misalnya pemberian tersebut diberikan oleh bawahan, atasan atau pihak lain yang tidak setara secara kedudukan atau posisi baik dalam lingkup hubungan kerja atau konteks sosial yang terkait kerja. Jika jawabannya adalah ya (memiliki posisi setara), maka bisa jadi kemungkinan pemberian tersebut diberikan atas dasar pertemanan atau kekerabatan (sosial)
  3. Apakah terdapat hubungan relasi kuasa yang bersifat strategis? Artinya terdapat kaitan berkenaan dengan atau menyangkut akses ke aset-aset dan kontrol atas aset-aset sumberdaya strategis ekonomi, politik, sosial, dan budaya yang Anda miliki akibat posisi Anda saat ini, seperti misalnya sebagai panitia pengadaaan barang dan jasa atau lainnya? Jika jawabannya ya, maka pemberian tersebut patut Anda duga dan waspadai sebagai pemberian yang cenderung ke arah gratifikasi ilegal.

Pertanyaan-pertanyaan lain bisa juga dijadikan pedoman untuk mengidentifikasi gratifikasi yang diterima, misalnya : apakah pemberian tersebut memiliki potensi menimbulkan konflik kepentingan saat ini maupun di masa mendatang?, apakah pemberian tersebut diberikan secara terbuka atau rahasia? atau kewajaran nilai dan frekkuensi pemberian yang diterima secara sosial.

Selain itu KPK juga pernah mengeluarkan surat himbauan yang ditujukan kepada banyak pihak, mulai dari Pimpinan Lembaga Tinggi Negara sampai Pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat terkait gratifikasi ini. (Surat KPK No. B-143 01-13/01/2013)

Dalam surat itu disebutkan bahwa gratifikasi yang tidak perlu dilaporkan dalam hal :

a. diperoleh dari hadiah langsung/undian, diskon/rabat, voucher, point rewards atau souvenir yang berlaku secara umum dan tidak terkait dengan kedinasan

b. diperoleh karena prestasi akademis atau non akademis (kejuaraan/perlombaan/kompetisi) dengan biaya sendiri dan tidak terkait dengan kedinasan

c. diperoleh dari keuntungan/ bunga dari penempatan dana, investasi atau kepemilikan saham pribadi yang berlaku secara umum dan tidak terkait dengan kedinasan.

d. diperoleh dari kompensasi atas profesi di luar kedinasan, yang tidak terkait dengan tupoksi dari pegawai negeri atau penyelenggara negara, tidak melanggar konflik kepentingan dan kode etik pegawai dan ijin tertulis dari atasan langsung

e. diperoleh dari hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus dua derajat (misalnya dari anak, bapak/ibu, kakek/nenek) atau dalam garis keturunan ke samping satu derajat (saudara kandung) sepanjang tidak mempunyai konflik kepentingan dengan penerima gratifikasi.

f. diperoleh dari hubungan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat (mertua/menantu) atau dalam garis keturunan ke samping satu derajat (ipar) sepanjang tidak mempunyai konflik kepentingan dengan penerima gratifikasi

g. diperoleh dari pihak yang mempunya hubungan keluarga sebagaimana huruf f dan g (mungkin maksudnya e dan f) terkait dengan hadiah perkawinan, khitanan anak, ulang tahun, kegiatan keagamaan/adat/tradisi dan bukan dari pihak-pihak yang mempunyai konflik kepentingan dengan penerima gratifikasi

h. diperoleh dari pihak lain terkait dengan musibah atau bencana dan bukan dari pihak-pihak yang mempunyai konflik kepentingan dengan penerima gratifikas

i. diperoleh dari kegiatan resmi kedinasan sepeti rapat, seminar, workshop, konferensi, pelatihan atau kegiatan lain sejenis yang berlaku secara umum berupa semnar kits, sertifikat dan plakat/ cinderamata ; dan

j. diperoleh dari acara resmi kedinasan dalam bentuk hidangan/sajian/jamuan berupa makanan dan minuman yang berlaku umum.

*Catatan : perhatikan juga aturan dalam kode etik profesi masing-masing. Jika dalam kode etik diatur bahwa gratifikasi yang tidak perlu dilaporkan sebagaimana diuraikan dalam surat berisi himbauan dari KPK tersebut di atas ternyata harus dilaporkan, maka kode etik yang harus ditaati.

Semoga bermanfaat.


0 Responses to “”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: