17
Okt
10

MENJAGA KESUCIAN PURA

Wayan Koplar : Tut, orang-orang bali yang ditangkap karena dituduh mencuri pretima itu kok dia keliatannya nggak apa-apa ya?

Ketut Brandes : nggak apa-apa gimana? Buktinya ditangkep trus ditahan begitu…

Wayan Koplar : Bukann…maksudku, kok dia tidak celaka atau kena musibah saat mencuri benda-benda suci itu ya? Seperti cerita-cerita dulu itu..kan ada yang punya niat mencuri pretima di pura, trus katanya nggak berani turun dari pelinggih karena dia merasa ada di tengah lautan..

Ketut Brandes : Ah, itu kan cerita…emang kamu tau cerita itu benar atau tidak?

Wayan Koplar : Ya nggak taulah, itu kan cerita orang..tapi aku percaya Ida Bethara pasti menghukum orang-orang yang berniat tidak baik itu. Dia mencuri di dalam pura yang merupakan tempat suci, yang dicuripun benda-benda yang disakralkan oleh umat Hindu

Ketut Brandes : Ya, kamu liat aja nanti gimana beritanya, apakah orang-orang yang terbukti mencuri pretima itu kena hukuman secara niskala. Atau mmm…mungkin memang ini hukuman buat orang Bali sendiri ..

Wayan Koplar : kok hukuman buat orang Bali? Maksudmu?

Ketut Brandes : Kenapa kita menuntut banyak hal kepada Ida Sang Hyang Widhi, Para Dewata, Ida Bethara, kepada Leluruh sedangkan kita sendiri tidak bisa memastikan apa yang kita lakukan untuk menjaga kesucian pura, misalnya melaksanakan piodalan atau medana punia untuk pembangunan pura, dilakukan dengan cara dan dari hasil yang tidak melanggar ajaran agama?

Wayan Koplar : Beh, apa maksudmu, nggak ngerti aku..!?

Ketut Brandes : Pernahkah kita memikirkan, berapa besarnya uang dana punia yang diberikan yang ternyata uang dari hasil korupsi, uang dari hasil berjudi dan dari hasil-hasil lain yang diperoleh bukan di jalan dharma?

Seberapa sering kita mendengarkan bangganya sebagian masyarakat yang bisa menyelenggarakan judi tajen di areal pura…

Aku tanya sama kamu Yan, kamu sembahyang biasanya minta apa sama Ida Bethara? Sama Para Dewa? Sama Ida Sang Hyang Widhi? Sama Leluhur? Jangan-jangan minta supaya cepat kaya, minta diberikan kesehatan, tapi apa yang kamu lakukan tiap hari justru bikin Ida Bethara geleng-geleng kepala, sukanya metajen, minum arak hampir tiap malam. Mana bisa cepat kaya dan sehat kalau begitu…

Wayan Koplar : Lho, emang kamu tau di pura tempat dimana pretimanya dicuri itu masyarakatnya melakukan hal-hal seperti itu? kan belum tentu juga..jangan dicap semuanya begitu dong karena ada beberapa yang melakukan kesalahan…itu tidak bijaksana

Ketut Brandes : Aku memang tidak tau Yan, tapi aku lebih senang memaknai peristiwa ini untuk bahan introspeksi, Apa saja yang telah kita lakukan selama ini,…apakah segala keriuhan keberagamaan ini ternyata sudah mampu merubah tingkat kesadaran kita

Yan coba kamu pikir, kamu sedang menjaga kesucian pura atau sedang membuat suatu tempat khusus untuk kamuflase? Jika Ida Bethara hanya kamu jadikan teman untuk menyempurnakan kamuflase kamu, mulai sekarang tidak usahlah menuntut macam-macam kepada Beliau. Jangan lagi terlena kepada cerita-cerita masa lalu yang sebagian besar membuat kita terlena, sombong dan pada akhirnya lupa dengan apa yang menjadi kewajiban kita.

Kejahatan itu bisa terjadi dimana saja, diwilayah-wilayah yang tidak pernah kita duga, Jika kita tidak ingin orang lain menghina kesucian pura kita. Tunjukkanlah bahwa kita memang benar-benar menjaga kesuciannya.

Wayan Koplar : Ah…kamu itu terlalu sinis Tut…….

Ketut Brandes : Ya, terserah kalau kamu menganggap aku sinis…tapi aku hanya mengatakan sebuah kenyataan. Sebelum menyalahkan orang lain, kita harus berani menunjuk hidung kita sendiri.

Menjaga kesucian pura bukan hanya sekedar soal kemewahan upacara, riuhnya suara gamelan, cantik dan gagahnya para pemedek. Tapi kebersihan dan kesucian hati setiap manusia yang mencakupkan tangan, menghadap Sang Hyang Widhi Wasa menghaturkan terimakasih atas segala yang telah diberikan, menjalankan kewajibannya sebaik-baiknya dan berjanji berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

Wayan Koplar : Jeg Ruwet san Tut…

Ketut Brandes : Ah..kamu aja yang ngerasa ruwet Yan. Udahlah, nanti aja kamu pikirkan itu, sekarang ayo beli tipat cantok dulu di warung depan..

Wayan Koplar : Nah…ini baruu. Ayo!

Semarapura, 23 September 2010


2 Responses to “MENJAGA KESUCIAN PURA”


  1. Januari 5, 2011 pukul 4:06 am

    memang semua itu sangat sulit bila dipikir tapi jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan mudah. suci dan leteh itu berakar dari hati nurani yang paling dalam bukan dari luar saja.
    dan yang perlu diingat adalah inti dasar kita beragama adalah Tattwa bukan upacara. akan tetapi jika upacara mewah pluss etika yang tinggi dan tattwa yang mantab…. dapat dipastikan akan tecipta MOKSARTHAM JAGAT HITA YA CA ITI DHARMA.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: