04
Agu
10

KONFLIK HORIZONTAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM

Tindakan kekerasan yang dipicu oleh perselisihan atau kesalahpahaman antar individu dalam masyarakat seolah menjadi hal yang lazim di negara kita. Perbedaan pandangan terhadap persoalan tertentu, entah itu di bidang politik, agama, ekonomi atau isu-isu lain yang sensitif, seringkali direspon dengan kekerasan fisik. Tentu saja persoalan ini harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak, karena jika tidak, meningkatnya penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan dari waktu ke waktu, akan berdampak besar di segala bidang kehidupan.

Dalam kondisi seperti ini, diperlukan pendekan yang berbeda untuk mengalihkan sebagian kekuatan besar yang sedang meliputi individu atau kelompok-kelompok masyarakat yang sehari-hari memiliki intensitas kontak fisik yang tinggi di satu sisi sedangkan memiliki pengetahuan tentang hukum yang rendah disisi lain.

Dari sudut pandang sosiologi hukum, kita dapat membayangkan suatu interaksi yang sangat besar antara masyarakat dan hukum. Perilaku sosial saat ini tidak bisa dilepaskan dari keberlakukan dan penegakan hukum itu sendiri. Dengan kata lain, sosiologi hukum memperhatikan verifikasi empiris dan validitas empiris dari hukum yang berlaku ( Prof. Satjipto Rahardjo, 1990)

Perilaku masyarakat yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku bisa menjadi pertanda banyak hal. Diantaranya adalah : mereka tidak mengetahui apa yang yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan atau mereka mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan tetapi tidak mau tunduk dengan aturan itu. Ketidak patuhan ini tidak serta merta terjadi begitu saja, tentu ada latar belakang yang menyebabkan perilaku seperti itu.

Ketika seseorang memiliki keberanian untuk melanggar hukum yang berlaku, atau tidak mau mengindahkan aturan ketika ia melakukan interaksi dengan orang lain maka konflik akan muncul. Konflik yang sederhana dalam ruang lingkup yang kecil mungkin bisa diredam oleh kekuatan sosial disekitarnya. Namun konflik yang melibatkan kumpulan orang-orang yang memiliki identitas tertentu sebagai penguat ikatan, berpotensi membuat persoalan yang sederhana menjadi rumit.

Identitas yang senantiasa dibawa-bawa oleh suatu kelompok memang dirasa bisa mempererat persatuan dalam kelompok itu, namun jika tidak dibarengi dengan kesadaran yang tinggi untuk menjaga perilaku dalam pergaulan sosial dan ketaatan pada hukum yang berlaku, maka ikatan itu hanya akan menjadi benih-benih rasa ego dan keinginan berlebihan untuk menunjukkan superioritasnya, yang mungkin akan memunculkan rasa ketakutan dan antipati dari anggota masyarakat yang lain.

Lemahnya penegakan hukum juga menjadi salah satu akar persoalan maraknya konflik horizontal dewasa ini. Hal ini menjadi persoalan yang sangat penting mengingat bahwa lembaga-lembaga penegak hukum belum sepenuhnya mampu mengendalikan potensi-potensi konflik. Penggunaan kekuatan diluar lembaga kekuasaan negara yang secara tegas diberikan kewenangan untuk menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan masyarakat, memberikan angin segar bagi sebagian pihak untuk berusaha menonjolkan diri sebagai tokoh atau membentuk organisasi yang bisa diandalkan dalam mengendalikan konflik.

Terlepas dari apakah sistem hukum yang diberlakukan di negara ini sudah dalam tataran ideal atau tidak, perilaku sebagian masyarakat menunjukkan adanya ketidak percayaan bahwa hukum itu bisa menyelesaikan masalah dan bisa memberikan keadilan. Jika ketidakpercayaan itu semakin berkembang maka setiap institusi penegak hukum yang diberikan kekuasaan oleh negara untuk menjaga ketertiban, secara kelembagaan akan sulit melaksanakan tugasnya. Memberdayakan sumber-sumber kekuatan dari luar pada akhirnya akan menjadi pilihan untuk ditempuh, agar dapat membantu melaksanakan tugas yang sesungguhnya menjadi kewenangannya.

Harus diakui pula bahwa penegak hukum dihadapkan pada persoalan yang rumit. Institusi yang berada di lapisan terdepan dalam menjaga ketertiban yakni Polri dihadapkan kepada banyak situasi ambivalen, seperti di satu pihak ia harus melayani masyarakat, sedangkan ia juga sekaligus harus mendisiplinkan masyarakat yang sama ini, polisi harus menjaga hukum, tetapi juga memelihara ketertiban sedangkan kedua-duanya tidak sama benar, polisi dicari masyarakat tetapi juga ditakuti (Prof. Satjipto Rahardjo, “Penegakan Hukum” 1983)

Seluruh lembaga kekuasaan di negara ini sesungguhnya tidak punya pilihan lain selain menjadikan hukum yang berlaku sebagai panglima, menjaga sedemikian rupa agar lembaga-lembaga yang dibentuk untuk menjaga hukum agar dapat diberlakukan dengan harapan menciptakan ketertiban dan kedamaian, bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Para Pemimpin seyogyanya memberikan contoh yang baik bagi lingkungannya, karena dalam situasi negara yang seperti ini, masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu memberikan teladan, taat pada hukum dan tidak menggunakan kekerasan sebagai pilihan untuk menyelesaikan permasalahan. Kita harus mulai lagi membuka-buka kitab usang, mengisi kembali memori-memori yang mulai memudar tentang prinsip-prinsip penegakan hukum. Asas-asas hukum saat ini memang sangat fasih diucapkan dalam berbagai kesempatan, tapi ternyata miskin aplikasi dalam kenyataan.

Seperti diungkapkan oleh Max Weber, sebagian besar dari orang-orang melakukan perbuatan yang sesuai dengan hukum, bukan atas dasar kepatuhan yang dipandang sebagai kewajiban hukum, tetapi lingkungannya menyetujui perilaku seperti itu atau tidak menyetujui perbuatan yang menyimpang dari hukum atau mungkin juga merupakan perbuatan yang dilakukan tanpa dipikirkan (Weber, 1955 : 13)

Dalam kerangka berpikir yang positif, tentunya kita semua berharap agar setiap konflik sosial yang terjadi merupakan peringatan agar segera menemukan jalan lain untuk menciptakan suatu keseimbangan baru.

Semarapura, 3 Agustus 2010


0 Responses to “KONFLIK HORIZONTAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI HUKUM”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: