25
Mar
10

PROBLEMA AKSI MASSA DALAM MENYUARAKAN IDEALISME

Kira-kira tahun 1999, sekelompok mahasiswa yang aktif di organisasi kemahasiswaan berencana melakukan aksi, bergerak dari kampus menuju xxxxxx, disana direncanakan akan dilakukan mimbar bebas. Entah apa istilah yang dipakai waktu itu, tapi saya mengartikan bahwa mereka memang berencana memancing emosi aparat keamanan, salah satu rencana mereka adalah membakar ban bekas disana. Saya yang kebetulan ikut dalam rapat perencanaan aksi unjuk rasa di salah satu ruang kuliah itu mengatakan, “kalau kita bisa melaksanakan aksi dengan damai, kenapa musti mancing-mancing emosi aparat seperti itu?” beberapa orang yang berdiri di depan yang asik membuat coretan di papan tulis hanya diam saja. “Apa gunanya sih bakar ban bekas? Bikin rusak jalan raya aja, selain bikin macet, bikin takut orang lain!”, pikir saya waktu itu. Mungkin saya terlalu lugu, tapi saya tidak pernah menyesal berpikir begitu.

Keesokan harinya, saya tetap ikut dalam aksi itu. Disepanjang perjalanan saya mengamati setiap orang yang ikut berpartisipasi. Koordinator lapangan (Korlap) cukup aktif mengawasi kelompok. Namun ada sebagian peserta saya perhatikan, yang dilakukan lebih banyak hanya cari-cari perhatian saja ketimbang berusaha memperhatikan dan ikut menjaga keselamatan kelompoknya.

Kira-kira setahun kemudian, terjadi hal yang kembali membuat saya semakin tidak suka dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan secara sembarangan dan membahayakan orang lain. Hari itu saya dan beberapa orang lain sedang melakukan kegiatan lapangan di gedung DPRD Propinsi Bali. Tiba-tiba terdengar ada teriakan dari luar gedung. Kami keluar ruangan kemudian melihat ada puluhan Mahasiswa sudah berada di depan lobi gedung DPRD.

Secara bergantian mereka melakukan orasi menggunakan pengeras suara (saya lupa persoalan apa yang mereka angkat waktu itu) tapi yang saya ingat adalah mereka memberikan cutton bud kepada salah seorang perwakilan dari dari DPRD, mungkin maksudnya adalah supaya Anggota DPRD semakin banyak mendengar suara rakyat. Sampai disitu saya pikir mereka masih simpatik. Tapi ketika mereka diajak berdialog dengan Anggota DPRD, mereka menolak. Saya heran, tapi kemudian menyangka mereka sepertinya lebih senang berteriak-teriak di luar gedung itu sambil menunggu jepretan kamera wartawan koran lokal ketimbang berdebat atau berdiskusi.

Saya dan beberapa teman sekitar 5 orang hanya berdiri saja, memperhatian mereka di bagian depan lobi gedung DPRD. Saya tidak beranjak sedikitpun, saya ingin melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Beberapa orang dari mereka mulai mendekati tiang bendera, sepertinya akan berencana menurunkan bendera setengah tiang. Ternyata benar, aparat Kepolisian mencegah mereka, dua orang memegang tali bendera, yang lain menghalangi mahasiswa agar mereka tidak menurunkan bendera. Keributan tidak terhindarkan, salah seorang mahasiswa terjatuh terkena pukulan polisi. Situasi agak ricuh, mahasiswa yang tadinya berteriak-teriak seperti orang kesurupan semakin menjadi-jadi. Saya berpikir, ini berlebihan!!.

Esoknya, di sebuah koran nasional, wartawan menulis berita tentang aksi itu, dan menyinggung bahwa ada sekelompok mahasiswa yang hanya diam saja melihat aksi teman-temannya (maksudnya kami yang hanya “melongo” melihat aksi mahasiswa waktu itu). Teman-teman di organisasi kemahasiswaan mengkritik tindakan kami, saya hanya tersenyum saja dan mengatakan bahwa sebetulnya wajar kalau polisi mengamankan bendera Indonesia.

Lebih baik saya tidak terlibat dengan tindakan-tindakan seperti itu. Kalau hanya ingin masuk koran, banyak hal lain yang lebih menarik yang bisa dilakukan. Sampai saat ini saya tidak menyesali sedikitpun tindakan acuh saya terhadap aksi rekan-rekan mahasiswa di gedung DPRD itu. Selain tidak simpatik, terkesan hanya cari sensasi saja, tidak ada persiapan untuk berdialog, tidak ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya membuka wawasan tentang bagaimana sebaiknya menyikapi suatu persoalan yang sedang terjadi. Apalagi tindakan beberapa orang dari mereka sangat memperkeruh suasana, memancing emosi aparat keamanan. (saat itu saya kembali teringat dengan rencana aksi setahun sebelumnya, modusnya sama saja)

Dari beberapa kali aksi mahasiswa yang pernah saya ikuti, memang tidak semua suasananya seperti yang saya ceritakan di atas, ada yang direncanakan dengan baik, berlangsung dengan tenang dan damai, sebelumnya juga dilakukan diskusi-diskusi yang membuka wawasan kebangsaan kita. Kejadian-kejadian belakangan ini mengingatkan saya kembali kepada peristiwa-peristiwa yang kurang enak itu.

Aksi-aksi yang memancing tindakan kekerasan tidak saja membahayakan diri sendiri, tapi juga berbahaya bagi orang lain dalam kelompok. Jika dibiasakan merencanakan aksi seperti itu, maka ketika aksi diikuti oleh ratusan atau ribuan orang, maka sangat mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki agenda jahat.

Dalam aksi-aksi massa seperti ini, harus diakui sangat sulit mengontrol kemurnian peserta di dalamnya. Aksi dijalanan haruslah direncanakan dengan baik, memiliki mekanisme perlindungan kelompok dan penggunaan tanda-tanda tertentu untuk mempermudah pengendalian kelompok.

Penggunaan aksi-aksi yang melibatkan orang banyak dalam menyuarakan pendapat saat ini memerlukan orang-orang yang sangat menguasai bagaimana memetakan, mengelola, memprediksi konflik yang mungkin akan terjadi. Bahkan aksi-aksi seperti ini seharusnya tidak boleh merencakan perbuatan-perbuatan yang bisa memancing emosi kelompok lain, atau bisa memperbesar potensi terjadinya konflik yang berujung pada tindakan kekerasan.

Slogan-slogan yang diteriakkan di jalananpun seharusnya bisa menunjukkan sebuah empati sekaligus simpati terhadap lingkungan sekitar yang terganggu akibat aksi ini.

Aksi-aksi seperti ini sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga masyarakat awam akan berpikir :

“oh mereka adik-adik kita yang idealis, sedang berusaha menyuarakan kemurnian hatinya, prihatin dengan kondisi negaranya, kita harus maklum”

“Mereka belajar di bangku kuliah, menggunakan ilmu yang mereka dapatkan dan hati nuraninya untuk kemudian bisa diandalkan membangun dan menyelamatkan bangsanya, mari kita mengalah, memberikan jalan umum ini untuk mereka gunakan menyuarakan pendapatnya demi kebaikan negara”

Bukan berpikir begini :

“Sialan,…kerjaannya demo terus…abis itu rusuh, mobil gua udah 10 kali kena lempar batu, padahal belum lunas, emang mereka mau bayarin cicilannya apa??! Asemm!!

Saya tidak membenci aksi demonstrasi, saya rindu aksi-aksi yang damai, simpatik dan membuka wawasan. Saya hanya prihatin jika aksi itu disusupi oleh ide-ide yang bisa membahayakan jiwa mereka sendiri. Banyak orang yang akan dirugikan jika aksi-aksi mahasiwa tidak dirancang dengan baik, apalagi sistem keamanannya gampang disusupi oleh pihak-pihak yang ingin membelokkan isu yang sedang diangkat.

Mari suarakan pendapat tanpa kekerasan, mari kita gunakan sisi intelektualitas kita untuk menciptakan aksi-aksi yang damai dan simpatik. Sehingga proses menyuarakan idealisme semaksimal mungkin tidak ternoda oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu yang ingin mendiskreditkan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan intelektual terbesar negara ini

Waingapu, 6 Maret 2010


0 Responses to “PROBLEMA AKSI MASSA DALAM MENYUARAKAN IDEALISME”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: