25
Mar
10

MENANTANG KEKUASAAN INDRIA (renungan untuk menyambut hari raya Nyepi)

Raga yang dipengaruhi oleh indria ini,

adalah perpaduan yang sempurna untuk melaksanakan kerja

Namun kekuasaan indria yang begitu besar dan tidak bisa dikendalikan,

akan menjauhkan kita dari kekuatan dharma

Saya merasa begitu lemah, indria ini sungguh menunjukkan kekuasaannya. Tidak ada sedikitpun waktu yang dibuang oleh indria. Tapi di saat yang sama saya memerlukannya, bagi kelangsungan kehidupan, bagi pencapaian tujuan-tujuan hidup saya, sebagian ambisi, memenuhi tanggung jawab saya sebagai manusia.

Salahkah mengikuti arus kekuatan indria? Tidak! Lalu kenapa banyak orang yang menggugat kekuasaannya? Mungkin karena banyak yang tenggelam dan tersiksa dalam kedigdayaannya. Mungkin juga karena banyak yang mulai paham bahwa indria kita tidak akan pernah puas. Jika semata-mata menuruti keinginan indria ini, maka  Manusia akan kehabisan tenaga dan akal, tidak mampu berkutik. Menyerah sebelum berperang di medan perang sesungguhnya.

Perasaan kita jika ingin menantang kekuasaan indria sama seperti perasaan ketika memandang air terjun besar dari bawah, sepertinya curahan airnya bisa meruntuhkan apa saja yang menghalanginya di bawah. Merinding membayangkan seluruh tulang kita remuk redam olehnya.

Kekuasaan, uang atau kenikmatan lainnya tidak akan pernah habisnya dinikmati. Selalu melambaikan tangannya, tersenyum manis, memanggil kita dengan lembut, menyentuh sisi-sisi gelap kita yang terkadang lupa kita sinari, berusaha menutup ruang-ruang hati nurani, menutup aliran-aliran kesadaran.

Sampai disitu hati saya gundah, dada saya bergetar ketika membayangkan apa yang kira-kira akan saya hadapi di masa depan. 30 tahun belumlah cukup untuk merasakan semua yang diperlukan untuk kemudian sesumbar menyatakan berani menantang indria yang berkuasa.

Mungkin saya tidak perlu menantangnya. Saya hanya perlu bersahabat dengannya, karena raga ini dan indria adalah perpaduan yang sempurna. Saya perlu berbicara dengannya, bernegosiasi, supaya saya tidak terlalu ditekan, dengan demikian saya juga tidak perlu mengekangnya terlalu kuat.

Saya yakin ada titik temu diantara keduanya, seraya berdoa dan berharap persahabatan ini akan menciptakan alunan nada-nada kedamaian dan kebahagiaan dalam hati.

Selamat menyepi di tengah hiruk pikuknya dunia.

Waingapu, 15 Maret 2010


0 Responses to “MENANTANG KEKUASAAN INDRIA (renungan untuk menyambut hari raya Nyepi)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: