10
Nov
09

Heroisme 10 Nopember 1945 (renungan untuk memaknai kembali nilai-nilai kepahlawanan sebagai amunisi perjuangan di masa kini)

images

Pada tanggal 10 Nopember pagi, tentara Inggris mulai melancarkan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. (http://paranti.wordpress.com/2008/11/10/heroday/)

Perang antara pasukan modern penjajah dengan Tentara Keamanan Rakyat serta dukungan penuh dari Rakyat Indonesia saat itu adalah salah satu perang paling heroik yang pernah terjadi dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan di Indonesia. Penentangan terhadap penjajahan adalah persoalan hidup para pemimpin dan rakyat Indonesia saat itu.

Perang 10 Nopember 1945 menjadi pemicu perang-perang melawan penjajahan di daerah lain yang kemudian terjadi sepanjang tahun. Momentum 10 Nopember telah memberikan inspirasi dan mengobarkan semangat perlawanan di seluruh penjuru Republik Indonesia.

Masa itu telah lewat, namun sampai saat ini gemanya masih terngiang di telinga, cerita heroiknya masih bergetar di dada. Cerita-cerita dari pejuang kemerdekaan yang masih hidup saat ini selalu menjadi hal yang menarik untuk didengar.

Saya jadi teringat perjuangan kakek dan nenek saya yang saat ini sebagian besar sudah meninggal. Disaat mereka masih bisa bercerita dengan jelas, saya selalu berusaha menjadi pendengar setia. Mereka semua pelaku sejarah, masih ingat betul bagaimana mereka melawan belanda dan jepang dengan senjata alakadarnya, bahkan satu senjata untuk tiga orang.

Mendengar cerita-cerita mereka terkadang saya jadi ikut hanyut dalam suasana bagaimana gerakan gerilya mereka, bagaimana melakukan perjalanan-perjalanan jauh hanya berbekal nasi segenggam pemberian masyarakat di pedesaan yang mereka lalui, bagaimana rasanya melihat rekannya mati dalam pertempuran, bagaimana melindungi saudara-saudara perempuan mereka dari “lirikan” tentara Jepang. Saya jadi tahu sebagian sejarah-sejarah tugu peringatan yang dibangun di sepanjang jalan dari denpasar menuju Singaraja.

Saya bisa duduk berjam-jam di atas lesung sambil mendengarkan mereka bercerita, saya tidak pernah bosan mendengarkan cerita mereka, sampai kadang-kadang keluarga yang lain memberi tahu…”eh udah dulu kakek tu capek ceritanya, biar istirahat dulu…”

Sekarang apa? di masa yang kita sebut dengan istilah “mengisi kemerdekaan” ada yang mengeluh hanya karena tidak punya blackberry. Ada yang mencaci maki bapaknya karena tidak dibelikan sepeda motor, ada anak SD yang mencoba bunuh diri karena malu bapak ibunya belum bisa membayar uang sekolah, ada yang nekat jual narkotika supaya bisa hidup bermewah-mewah. Yang terakhir ada bapak yang tega membanting anaknya sampai mati gara-gara stress! Stress apa? melawan penjajah? ditembakin meriam? ditodong pistol karena melawan penjahat jalanan?

Tapi biar bagaimanapun, persoalan hidup jaman sekarang memang tidak bisa dianggap enteng. Setiap jaman memiliki persoalan sendiri-sendiri, kekuatan manusia di setiap jaman untuk menghadapi keadaan juga berbeda-beda.

Membandingkan satu masa dengan masa yang lain memang sulit. Saya tidak mau dicap sinis terhadap kondisi jaman dan perlilaku manusia yang mengikutinya. Tapi lewat tulisan ini saya mengajak kita semua (termasuk saya) untuk merenung dan menenangkan diri dari segala tantangan jaman, segala persoalan hidup yang sesungguhnya bisa kita sederhanakan.

Dengan membandingkan persoalan hidup berat yang dialami para Pahlawan kita di masa perjuangan dulu, mungkin akan membuat kita akan merasa lebih tenang dan lebih rileks sehingga mulai berpikir “oh…persoalan yang kita hadapi tidak segawat masa perjuangan kemerdekaan dulu, saya pasti bisa melalui semua ini”

Kebodohan, korupsi, terorisme, adalah sebagian dari lawan berat kita saat ini, musuh yang telah berganti muka. Perlawanan bukan lagi menggunakan senjata pistol, tapi menggunakan senjata kecerdasan, kejujuran dan kesucian hati.

Selamat merenungkan makna hari Pahlawan dengan cara anda sendiri.

Waingapu, 10 Nopember 2009


0 Responses to “Heroisme 10 Nopember 1945 (renungan untuk memaknai kembali nilai-nilai kepahlawanan sebagai amunisi perjuangan di masa kini)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: