08
Nov
09

Pengadilan Jalanan (catatan hukum akhir pekan)

Selama sepekan ini banyak kejadian menarik yang disajikan kepada publik melalui media massa. Keributan besar terjadi, mulai dari pakar hukum, pakar politik, pejabat negara sampai dengan masyarakat yang sedang nongkrong di warung kopi, semuanya bicara dan melakukan aksi agar bisa memberikan kontribusinya meredakan persoalan yang terjadi. Ada yang menggunakan pendekatan politik, hukum normatif, ada juga yang sekedar menunjukkan sisi emosional saja, bahkan komunitas didunia maya memberikan suaranya, entah mereka itu mengerti atau tidak duduk persoalannya, karena untuk mendukung atau tidak mendukung di dunia maya hanya diperlukan satu klik saja, tidak perlu mengetik apa-apa untuk menjelaskan latar belakang apa yang membuat mereka mendukung atau tidak mendukung sesuatu.

Dalam negara hukum, ketika penegak hukum menduga telah terjadi suatu kejahatan, maka dimulailah proses-proses penegakan hukum untuk mengembalikan atau menetralkan kembali goncangan sosial yang terjadi akibat persoalan tersebut. Seseorang yang diduga melakukannya harus dihadapkan pada sebuah proses pemeriksaan oleh lembaga-lembaga penegak hukum tersebut, selain itu lembaga penegak hukum harus menjamin dipenuhinya hak-hak dari orang yang diduga melakukan kejahatan untuk kepentingan pembelaan dirinya. Kedua belah pihak harus menyadari betul kewajibannya bahwa, untuk memastikan agar suatu peristiwa menjadi terang benderang, mereka harus jujur. Kewajiban hukum inilah yang semakin dilupakan, kejujuran menjadi barang langka.

Keterbukaan informasi dalam penegakan hukum menjadi masalah yang tidak bisa pula dianggap enteng. Jika harus memilih, publik tentu memilih mereka bisa mengetahui apa yang sedang terjadi terhadap suatu kasus yang sedang diproses oleh penegak hukum. Namun, adakah jaminan bahwa yang dibeberkan di depan publik oleh pihak yang sedang berkepentingan dalam penegakan hukum lewat media massa adalah kebenaran?

Kita boleh saja berpendapat berdasar atas kejadian-kejadian, dasar-dasar hukum yang diramu sedemikian rupa kemudian menjadi kesimpulan. Belum lagi ditambah dengan logika-logika yang dibeberkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Akhirnya publik menghakimi sendiri, mengambil kesimpulan sendiri. Kesimpulannya beragam sesuai selera dan kepercayaannya masing-masing.

Kekuatan rakyat memang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Masyarakat awam lebih banyak mengeluarkan pendapat berdasarkan sesuatu yang mereka rasakan sehari-hari. Mereka tidak terlalu perduli dengan substansi suatu persoalan hukum, karena mereka mengutamakan kepercayaan mereka, entah itu percaya kepada lembaga atau orang perorangan.

Keadaan inilah yang saya sebut sebagai “Pengadilan Jalanan”. Ada pihak-pihak yang berseteru, bertarung dengan senjatanya masing-masing tetapi wasitnya tidak ada. Masing-masing berpendapat, semua mengaku benar, semua memiliki bukti-bukti, semua memiliki ramuan-ramuan bukti yang kemudian disimpulkan sendiri menjadi fakta, lalu disajikan ala kadarnya melalui media kepada publik. Makanan seperti ini akan menjadi tidak sehat jika tidak ada yang memandu bagaimana menilai kandungan nutrisinya.

Yang paling berwenang menilai semuanya adalah Hakim melalui sebuah proses pemeriksaan dalam persidangan yang terbuka untuk umum. Persidangan di ruang pengadilan itulah arena yang sah untuk bertarung. Arena untuk membuktikan tuduhan ataupun mengajukan pembelaan diri, dimana pada akhirnya Hakim yang memeriksa perkara tersebut akan menjatuhkan putusan.

Alangkah baiknya jika kekuatan media massa yang sangat mendominasi saat ini dimanfaatkan untuk ikut membangun dan menginformasikan dasar-dasar suatu proses peradilan yang baik. Pendidikan hukum harus digemakan ke segala penjuru dengan tujuan jelas yakni, memastikan rakyat tidak tersesat dalam rimba keterbukaan informasi.

Pada akhirnya, saya merasa kita harus lebih banyak lagi menilai kejujuran kita dan berani mengambil tanggung jawab sebagai komponen bangsa yang berkepentingan untuk membangun negara hukum yang lebih sehat.

Waingapu, 7 Nopember 2009


0 Responses to “Pengadilan Jalanan (catatan hukum akhir pekan)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: