27
Okt
09

MEMBOLAK BALIK LOGIKA TENTANG GAJI PEJABAT PUBLIK

Tidak lama setelah pelantikan Menteri Kabinet, ramai diberitakan dimedia massa tentang kenaikan gaji Presiden, Wakil Presiden, Menteri dan Pejabat Negara lainnya. Pemerintah memang memperhatikan persoalan ini secara serius, reformasi birokrasi sudah bergulir yang didalamnya termasuk pemberian tunjangan yang berbasis kinerja. Hal ini harus diberikan dukungan yang besar karena memiliki tujuan yang baik yakni salah satunya ingin membersihkan birokrasi dari praktek-praktek corruption by need yang dilakukan pejabat publik.

 

Namun saya sering khawatir dengan pernyataan sebagian kalangan yang seolah-olah ingin memutar balikkan logika, atau jika tidak bisa disebut dengan istilah seperti itu, mereka bermain-main dengan logika yang menurut mereka benar.

Hal yang demikian bisa kita lihat dari pernyataan-pernyataan seperti ini :

“Gaji pejabat mau dinaikkan? ah, apakah itu menjamin mereka tidak akan korupsi? “Masyarakat kita sedang susah, miskin, pejabat maunya naik gaji aja, mustinya mereka malu dengan rakyatnya!”

“Mereka harus menunjukkan dulu bahwa institusinya bersih, baru minta gaji besar!”

“Mereka sebelum melamar pekerjaan kan udah tau, gajinya berapa? kalau udah tau gajinya kecil, kenapa masih tetap mau melamar?

Mereka mungkin tidak tahu, kalau diluar sana ada anak petani miskin yang saat ini sudah menjadi pejabat publik, seseorang yang memiliki kemampuan dan sangat cocok menjadi pelayan masyarakat, walaupun sejak awal dia tahu kalau seandainya dia diterima bekerja gajinya sangat kecil. Tapi toh dia tetap ingin mewujudkan cita-citanya, kebanggaan bisa melayani rakyatnya itu menurut dia lebih tinggi nilainya daripada gajinya.

Mereka bisa jadi lupa, atau tidak mau perduli bahwa saat pernyataan itu keluar dari mulut mereka, disaat yang sama banyak orang merasa hatinya tercabik-cabik, marah, merasa tidak dihargai, dilupakan dan dipinggirkan. Orang-orang ini adalah mereka yang selama ini bertahan dengan idealismenya walaupun dalam keadaan yang sangat sulit, orang-orang yang punya cita-cita tinggi dan dengan tulus mengabdi kepada negaranya, tanpa pernah memperdulikan berapa penghasilan mereka tiap bulan. Mereka selalu berusaha bekerja taat dengan aturan, hidup sederhana dan bertahan dengan kesederhanaannya. Sesungguhnya dalam hatinya mereka mendambakan datangnya perhatian dan sebuah kebanggaan yang bisa dia peroleh dari sesuatu yang bernama gaji, yang bisa dia lihat bentuk fisiknya dan merupakan salah satu hal terpenting yang bisa dinikmati dan dipergunakan untuk menjalankan kehidupan lahir batinnya.

Logika tidak boleh memperbudak kita yang mengaku memiliki hati nurani dan rasa. Logika yang diucapkan terkadang hanya permainan kata-kata yang sering muncul dari hasil pemikiran yang “tidak beres”.

Pekerjaan rumah kita saat ini sangat jelas : <b>Negara ini harus diselamatkan. Kemiskinan yang kita hadapi sebagian besar adalah dampak dari korupsi, penurunan kualitas pelayanan publik menjadi salah satu persoalan penting yang harus diselesaikan untuk mengurangi kekuatan arus korupsi.<b/>

 

Dengan demikian, adalah penting untuk memberikan jaminan bahwa penghasilan pejabat publik sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan cukup untuk mengembangkan dirinya agar lebih fokus dalam melayani masyarakat. Jika opini yang dikembangkan hanya untuk membiarkan mereka tetap dalam keadaan lapar namun sekaligus membebani mereka dengan tanggung jawab yang besar, berarti kita hanya ingin agar mereka menghabiskan energi hidupnya untuk menghadapi pertentangan batin.

Kapan mereka akan bisa melayani masyarakat dengan sepenuh hati? Kalau kenyataannya gajinya masih rendah. Tetapi kalau gaji mereka sudah tinggi, masih juga ada yang berani melakukan korupsi (terlebih dalam keadaan negara sedang dilanda bencana seperti ini) hukuman mati adalah layak.

 

Waingapu, 27 Oktober 2008


0 Responses to “MEMBOLAK BALIK LOGIKA TENTANG GAJI PEJABAT PUBLIK”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: