27
Okt
09

HAI PEMUDA, MASIH BERKOBARKAH RASA CINTAMU PADA TANAH AIR? MASIH HORMATKAH KAU PADA BANGSAMU? MASIH BANGGAKAH KAU BERBAHASA INDONESIA? (Renungan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda)

Pada tanggal 27 Oktober – 28 Oktober 1928, para pemuda yang terhimpun dalam Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) berinisiatif untuk menyelengagrakan Kongres Pemuda II. Rusmusan hasil kongres yang diucapkan oleh pemuda yang hadir saat itulah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Latar belakang perjuangan saat itu tentu berbeda dengan sekarang, kita sudah merdeka, menjadi negara yang berdaulat (para aktivis mungkin akan mendebat pernyataan ini ditinjau dari berbagai segi, tapi oklah…faktanya kita sudah merdeka, memproklamasikan kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus 1945). Sebelum tahun 1945, perjuangan para pendahulu kita sangat berat, luar biasa, sangat berbeda dibandingkan dengan keadaan kita sekarang-bahkan sekarang ini ada yang stress hanya karena tidak punya blackberry- mereka melawan penjajahan bangsa-bangsa asing, melawan feodalisme, meletakkan dasar-dasar negara, membangun suasana persaudaraan yang tinggi dalam kebhinekaan. Mereka sangat berbahaya dimasanya.

Sekarang, seberapa berbahayakah kita generasi muda Indonesia bagi lingkungan sekitarnya? maksud saya seberapa berbahayakah kita terhadap perilaku-perilaku yang merusak yang kita lihat selama ini disekitar kita? yang merusak warisan luhur dari pemuda-pemuda pendahulu kita : terorisme, diskriminasi yang dilatar belakangi SARA, peredaran narkotika, perdagangan manusia, perusakan lingkungan, korupsi, kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan dan sebagainya. Ketika sebagian besar orang melakukan sesuatu yang salah, tidak serta merta menjadikan perbuatan itu menjadi benar. Beranikah kita sesekali mengatakan itu salah, dan kemudian berhenti melakukannya, atau sesekali memberikan masukan kepada atasan kita ditempat bekerja dan mengatakan “pak sepertinya ini salah, menurut saya sebaiknya kita merubahnya”…… seberapa berbahayakah kita ?

Ini hal yang berat, bagi kami anak muda tentu memerlukan energi besar, tapi sama sekali bukan hal yang mustahil dilakukan…

Saya teringat juga kepada seorang teman dimana di satu kesempatan kami berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan bidang profesi tertentu, itu terjadi 5 tahun lalu dan ia mengatakan seperti ini kepada saya…”yahh, kalo kita bisa idealis itu bagus, tapi kita lebih baik mengikuti saja arus yang ada, supaya tenang…” Saya heran juga, dia bahkan tidak pernah bekerja di bidang yang kita bicarakan, tapi darimana dia mendapatkan ide seperti itu? Tetapi saat itu tidak ada perdebatan, karena walau bagaimanapun saya tetap  menghormati pendapatnya, dia pasti punya latar belakang dan pertimbangan tertentu, dia berhak memilih jalan apapun yang akan ditempuhnya.

Kita secara tidak sadar sering sekali membicarakan ketidak beresan yang terjadi di sekitar kita, kemudian menjadikannya bahan tertawaan, seolah-olah kita tidak sadar bahwa kita sedang mentertawakan diri sendiri. Bangsa sendiri kita caci maki, coba saja lihat berapa banyak anak muda sekarang yang lebih fasih mencaci maki bangsanya sendiri daripada kreatif menggunakan otaknya untuk menghasilkan solusi-solusi cerdas agar kita keluar dari berbagai persoalan sosial.

Belum lagi soal bahasa, ada sebagian orang yang sekarang agak susah berbahasa indonesia yang baik, kalau mendengarkan mereka berbicara, malah jadi nggak ngerti… dicampur bahasa inggris, padahal bahasa inggrisnya juga nggak jelas-jelas amat. Selain itu terkadang istilah yang dipakai juga tidak tepat dipadukan dengan kalimatnya. Ada juga yang kreatif membuat kamus bahasa gaul. Wah sekalian saja pelajari bahasa elf atau bahasa smurf …!! (elf itu salah satu bangsa rekaan dalam film Lord of The Ring, sedangkan smurf itu tokoh dalam majalah anak-anak The Smurf).

Tapi maaf, saya berusaha tidak sinis…ini hanyalah fakta yang saya lihat, saya dengar dan saya alami sendiri. Inilah kenyataan yang harus dilihat apa adanya, dinilai, direnungkan dan kemudian kita bisa mencatat sudah sampai dimana perjalanan kita sebagai generasi muda. Ini semua kritik untuk diri saya sendiri yang terkadang juga banyak melakukan kesalahan.

Sekarang yang diperlukan adalah lebih banyak mesin mesin penggerak yang menggerakkan moral pemuda pemuda kita agar lebih berani lagi menunjukkan karakternya, melakukan hal-hal kecil yang bisa merubah nasib bangsanya, mengimplementasikan pikiran pikiran berbahayanya, cita cita berbahayanya untuk kemajuan bangsa. Tidak perduli apapun pekerjaannya.

Jadi….mari kita bersama, nyalakan tanda bahaya, gemakan keseluruh pelosok negeri, bahwa kita tidak lupa dengan sumpah yang diikrarkan oleh pendahulu-pendahulu kita dan kita akan terus berusaha memberikan warna baru pada wajah Bangsa Indonesia.

Warna yang mencerahkan dan membuat bangsa lain tersenyum pada kita sehingga mereka mengetahui bahwa kita ternyata adalah orang-orang yang masih menghargai tanah air, bangsa dan bahasanya.

***Sebagian besar isi catatan ini saya ambil dari catatan akhir pekan saya pada tanggal 21 Juli 2009 yang berjudul (Muda, Beda dan Berbahaya), saya hanya merubah sedikit isinya agar pas dengan moment peringatan hari Sumpah Pemuda.

Selamat memperingati hari Sumpah Pemuda.

Waingapu, 27 Oktober 2009


0 Responses to “HAI PEMUDA, MASIH BERKOBARKAH RASA CINTAMU PADA TANAH AIR? MASIH HORMATKAH KAU PADA BANGSAMU? MASIH BANGGAKAH KAU BERBAHASA INDONESIA? (Renungan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: