22
Okt
09

Bli, Kastanya apa?

Selama hampir 3 tahun saya berada si Sumba Timur ini, pertanyaan seperti judul di atas itu saya terima kurang lebih 3 kali, dan jawaban yang saya berikan selalu panjang, kenapa panjang? Karena sampai saat ini, di daerah kelahiran sayapun istilah kasta ini masih menjadi sumber kesalahpahaman dalam masyarakat, apalagi di daerah Sumba Timur yang masyarakatnya mayoritas beragama Kristen.

Pertanyaan yang terakhir saya terima kira-kira sebulan yang lalu, sehabis bermain tenis saya dan beberapa kawan bersenda gurau dan entah karena apa (saya lupa) tiba-tiba salah seorang kawan bertanya kepada saya. Kalo Bli kastanya apa? saya berpikir sejenak, lalu menjawab, dalam agama saya sebenarnya tidak dikenal istilah kasta, kasta itu dikenal di India, disana berkembang penggolongan masyarakat berdasarkan kasta yang berpengaruh besar terhadap status sosial seseorang, lain lagi halnya dengan daerah Bali, disana ada juga istilah wangsa yang lebih menekankan pada strata sosial pada masa-masa pemerintahan feodal dan terus menurun sampai saat ini menjadi suatu ikatan kekeluargaan yang bisa dilihat dalam ciri-ciri tertentu lewat gelar-gelar yang ditambahkan pada namanya sejak lahir, misalnya : Ida Bagus, I Gusti, Ida Ayu, Cokorda dan lain sebagainya.

Sampai disana saya berhenti sejenak dan meminta maaf kepada mereka, saya mengatakan, “maaf saya harus menjelaskannya agak panjang, karena istilah ini memang terkadang dicampur adukkan sehingga maknanya menjadi bias”… lalu saya lanjutkan…

Dalam kitab suci kami Veda, yang dikenal adalah sistem warna, kita semua ini digolongkan kedalam empat golongan sesuai dengan pekerjaan kita sehari-hari. Yang sehari-harinya menjadi pemuka agama, pendeta, orang-orang yang memimpin upacara agama, mereka digolongkan kedalam golongan Brahmana. Kemudian yang pekerjaannya sebagai petani, buruh, nelayan, disebut golongan Sudra. Yang bekerja sebagai peyalan masyarakat seperti saya ini, Jaksa, polisi, tentara, politisi, digolongkan sebagai kaum Ksatrya dan yang pekerjaannya sebagai pengusaha, pedagang, mereka disebut sebagai golongan Waisya.

Dalam sistem warna tidak ada tinggi rendah, kalau tidak ada petani, brahmana tidak bisa makan, tidak ada yang membeli hasil pertanian (seperti yang dilakukan oleh para Waisya) petani tentu kesulitan memasarkan hasil panennya, atau jika tidak ada pengusaha maka perekonomian tidak akan bergerak. Demikian juga halnya jika tidak ada para ksatria yang melayani masyarakat, menjaga keamanan negara ini, mengambil keputusan-keputusan dan kebijakan dalam proses politik, bisa dibayangkan negara ini tidak akan bergerak.

Semua golongan masyarakat ini diharapkan menjalankan kewajibannya dengan baik, karena tinggi rendahnya kedudukan mereka dalam masyarakat ditentukan dari apakah mereka menjalankan kewajibannya dengan baik.

Jadi dalam masyarakat kami kalau bapaknya pendeta, trus anaknya tukang cuci piring di restoran, kita bisa menggolongkan sendiri dengan mudah : bapaknya disebut sebagai golongan brahmana, sedangkan anaknya sudra. Atau bisa juga, kalau yang tadinya bekerja sebagai petani, atau buruh, kemudian dia giat belajar agama dan ilmu pengetahuan lainnya, menjadi ahli agama, lalu mengabdikan dirinya memberikan pencerahan kepada masyarakat, dia akan digolongkan sebagai seorang Brahmana.

Semua golongan masyarakat ini diharapkan menjalankan kewajibannya dengan baik, karena tinggi rendahnya kedudukan mereka dalam masyarakat ditentukan dari apakah mereka menjalankan kewajibannya dengan baik.

Waktu itu saya tidak berharap mereka paham dengan penjelasan saya, karena sejatinya saya juga bukan pakar agama dan kawan-kawan saya yang kebeteluan ada saat itu semua beragama muslim, tetapi setidaknya saya sudah berusaha memberikan informasi yang tidak akan menimbulkan kesalahpahaman lebih besar di masa depan

15 menit kemudian kami bubar….seperti biasa kami semua saling mengucapkan terimakasih.

“terimakasih pak, sampai ketemu dua hari lagi…kita duel lagi dilapangan!”

Waingapu, 21 Oktober 2009


2 Responses to “Bli, Kastanya apa?”


  1. 1 boy
    April 19, 2010 pukul 12:49 pm

    wah baru tau gw penjelasannya begitu, knapa gak pernah ada yang jelasinnya begitu ya selama ini? logis, masuk akal dan mudah dimengerti…bisa gw pake untuk sok jelasin ke orang lain kalo ada obrol2an soal kasta hehehe

    • 2 darpawan
      April 20, 2010 pukul 5:32 am

      tadinya saya pengen diem aja sih, tapi ga tahan juga mau ngomentarin obrolan mereka. Jadilah “sosialisasi” di lapangan tenis..hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: