14
Okt
09

Gaduhnya penikmat teknologi (bagian ke II)

Sekarang ini saya menggunakan telepon seluler merek sony ericsson type K510i. Sudah hampir satu tahun saya menggunakan telepon ini. Saya senang sekali dengan telepon ini, selain harganya murah, fiturnya juga lumayan lengkap dan bisa membantu saya jika ingin terhubung dengan internet bila perlu. Sebelumnya sejak tahun 2003 saya menggunakan siemen M35 (tau kan? yang warnanya kuning itu, setelah saya pakai 4 tahun, akhirnya rusak), telepon itu pemberian dari teman saya, teman saya yang lain sering mencela (dengan nada bercanda) katanya : “kum, tambahin aja keyboard di hpmu itu, jadi deh communicator!” hehehe… saya selalu ingat lelucon itu, saya senang karena kami selalu tertawa terbahak-bahak ketika mendengar lelucon itu….

Selama saya menggunakan sony ericsson ini, baru hari ini saya benar-benar mencoba menggunakan aplikasi untuk membuat rekaman video. Saya iseng saja merekam ruangan saya di kantor selama beberapa detik, kemudian saya simpan, lalu saya transfer ke komputer saya.

Setelah saya menonton rekaman video itu, saya jadi geli sendiri…. kemudian berpikir, oh…ternyata gampang sekali membuat rekaman video seperti ini. File yang dibaca oleh komputer saya memiliki ekstensi 3gp, entah apa maksud kode itu, tapi ketika saya melihat kode itu, saya jadi teringat bahwa kode itu juga ada di rekaman-rekaman video yang beredar luas di masyarakat. Judulnya macam-macam, anak smu nakal, xxxx selingkuh, mahasiswi xxxx….. sekarang ini video-video seperti itu sangat mudah diperoleh, bisa di download dari internet atau kiriman dari teman.

Kami (saya dan isteri) sering berdiskusi soal ini, kami kadang berpikir : “sungguh luar biasa isengnya kalo ada orang yang merekam dirinya sendiri dalam keadaan telanjang atau merekam dirinya sendiri sedang berhubungan seksual dengan pasangannya (terlebih lagi dengan selingkuhannya) menggunakan telepon seluler” Apakah mereka tidak sadar bahwa walaupun file itu dihapus menggunakan fitur yang disediakan oleh perangkat itu sendiri, file yang telah terhapus itu sangat mudah diakses dan dikembalikan lagi dengan bantuan perangkat lunak yang bisa kita dapatkan secara gratis.

Sadarkah mereka bahwa tempat penyimpanan data seperti kartu memory dalam telepon mereka itu sama saja cara kerjanya dengan flashdisk yang mereka gunakan sehar-hari, perangkat penyimpan data yang terintegrasi dalam telepon seluler itu juga bekerja tidak jauh berbeda dengan cara kerja penyimpanan data dalam komputer.

Saya kadang menerka, mungkin saja mereka dulu sudah menghapus video itu, kemudian menjual telepon selulernya karena ingin menggantinya dengan yang baru, mereka tidak perduli bahayanya kalau data yang ada di dalam telepon yang sudah pernah dipakai untuk merekam video-video itu bisa diambil oleh pembelinya atau pemilik terakhir telepon itu. Atau memang mereka tidak tahu cara kerja perangkat-perangkat seperti itu?

Saya memang bukan pakar teknologi karena memang bukan itu bidang saya, mungkin saja mengambil data dari sebuah perangkat telekomunikasi lebih rumit dari yang saya uraikan di atas, tetapi ada fakta bahwa sebagian besar rekaman-rekaman video yang beredar luas dimasyarakat (tentunya yang tidak dibuat secara khusus oleh pihak-pihak yang profesional) menunjukkan bahwa seolah-olah yang merekam atau yang terlibat di dalamnya, sama sekali tidak takut video yang sangat pribadi itu bisa tersebar luas. Bahkan hanya dengan beberapa kali klik saja, (kalo dihitung setelah saya merekam video dengan format tertentu, diperlukan sekitar 5-7 kali klik) untuk menguploadnya ke sebuah website pribadi atau website terkenal yang khusus menampilkan video seperti misalnya youtube……dan selanjutnya walaahhh.!! video itu sudah bisa diakses dari seluruh penjuru dunia.

Isteri saya sering mengingatkan saya agar selalu berhati-hati, dia sangat takut dengan satu ungkapan bahwa “tidak ada yang bisa disembunyikan di dunia maya”, ketakutan isteri saya sangat beralasan, insting yang sangat baik untuk melindungi diri sendiri dari masalah-masalah yang tidak pernah kita bayangkan.

Sebagaimana pada tulisan saya yang pertama, saya bukan orang yang anti teknologi, selama ini saya hanya berusaha selalu mengikuti perkembangannya dengan harapan saya bisa memanfaatkannya untuk membantu melakukan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Ketika menulis catatan ini, saya serasa kembali mengingat-ingat masa lalu, di saat internet baru diperkenalkan, kejahatan-kejahatan didunia maya mulai marak dan aparat penegak hukum harus memeras otak untuk mengawasi kegiatan para hacker dan cracker …(maaf kalau salah sebut istilahnya)

Pada akhirnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa : adalah suatu beban yang besar bagi kita untuk mempergunakan teknologi dengan lebih bertanggung jawab, kemajuan teknologi bisa memberikan banyak hal positif yang sebelumnya nya tidak pernah terpikirkan oleh kita, namun sekaligus juga bisa mencelakakan kita disaat kita lengah.

Waingapu, 14 Oktober 2009


0 Responses to “Gaduhnya penikmat teknologi (bagian ke II)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: