02
Okt
09

The fellowship between human and nature (persahabatan antara manusia dengan alam)

Ketika konsep negara mulai diperkenalkan oleh manusia, manusia begitu percaya diri dan dengan “angkuhnya” mendeklarasikan bahwa negara akan menjadi perwakilan dari manusia untuk bekerjasama dengan alam (bumi dan segala isinya): menguasai, mempergunakan, mengusahakan, seluruh kekayaan alam untuk kesejahteraan mereka. Sumber daya alam itu diperoleh oleh negara secara cuma-cuma. Sebagian besar bahan-bahan baku yang digunakan untuk membuat benda yang merupakan kebutuhan penunjang hidup kita berasal dari alam. Alam hanya diam saja, mengangguk tidak, menggeleng juga tidak. mengiyakan tidak, menolak atau mendebat juga tidak.

Kalau saya boleh berkhayal, menggunakan segala kemampuan saya yang terbatas untuk membayangkan sahabat terbaik manusia yang bernama alam dan mencoba memberikan bentuk kepada alam ini, saya membayangkan sosok yang pendiam, berdiri tegak dengan badan yang ditopang dengan kakinya yang kokoh, dia sosok yang tidak pernah mengeluh, tidak banyak berdebat, sahabat yang sangat pengertian, sosok yang teguh pada pendiriannya.

Sahabat manusia ini memberikan apa saja yang ia punya kepada manusia, karena ia sadar betul bahwa apa yang ia miliki membuat manusia tetap hidup dan ia hanya ingin kesadaran manusia sebagai sahabatnya bahwa, ia juga harus melakukan sesuatu untuk bertahan hidup.

Alam tidak memerlukan bantuan manusia mempertahankan hidupnya (tapi kemungkinan besar ia memerlukan manusia untuk mengakhiri hidupnya). Sejarah mulainya manusia hidup berdampingan dengan alam, tidaklah sebanding dengan proses kehidupan alam yang telah dijalani selama milyaran tahun, karena itu manusia tidak punya bargaining power (posisi tawar) yang besar dan mau tidak mau harus menerima apapun yang terjadi akibat aktivitas alam sebagai sebuah sistem yang sudah sangat mapan.

Meskipun ini sebenarnya kurang sopan, tapi dalam silent agreement (persetujuan diam-diam) antara manusia dan alam ini, alam telah memasukkan klausul pokok dalam sebuah bab yang berjudul : Tolong pahami pola hidupku dan kau akan lebih aman.

Ya…. bab itulah yang jarang dibaca oleh manusia. Meskipun manusia sebenarnya sadar bahwa Tuhan tidak memberikan jaringan yang terintegrasi antara panca indera manusia dengan alam yang bertujuan untuk memberikan peringatan akan adanya aktivitas yang berpotensi menimbulkan bahaya besar bagi hidup manusia, tapi sebagian manusia tidak mau mempergunakan akalnya untuk melindungi diri secara baik dari aktivitas-aktivitas alam yang menimbulkan efek samping bagi segala sesuatu yang dibuat oleh manusia dengan menggunakan bahan-bahan dari alam.

Kenapa saya mengatakan begitu, sekarang kita harus sedikit merenung : sudah berapa banyak manusia yang mati karena gempa? Kalau tidak direnungkan, pasti akan dengan cepat dijawab : jutaan orang sudah mati karena gempa! Jawaban itu mungkin tidak sepenuhnya benar, karena ternyata banyak manusia yang mati karena tertimpa bangunan yang roboh. Ini mungkin bisa diperdebatkan oleh rekan-rekan saya karena sebagian mungkin akan mempergunakan teori bahwa segala peristiwa akan dipertimbangkan sebagai penyebab dari satu akibat.

Yang saya ingin sampaikan bahwa setiap negara yang memiliki karakteristik rawan gempa seperti jepang, indonesia dan negara-negara lainnya, harus memiliki dan menerapkan mekanisme perlindungan yang baik untuk melindungi warganya.

Kemampuan ekonomi yang lemah, dan banyaknya masyarakat miskin, tentu suatu keadaan yang sulit untuk menciptakan suatu keadaan dimana masyarakat dengan mudah membangun rumah yang kuat dan tahan terhadap guncangan gempa sampai pada suatu skala tertentu, tetapi kalau kenyataannya kemudian yang roboh adalah bangunan pemerintah, atau bangunan-bangunan yang kelihatannya berdiri kokoh dan megah, adakah yang perlu dipertanyakan?

Ok lah, kita flashback sedikit, berapa banyak orang meninggal karena Tsunami di aceh? Puluhan ribu, ratusan ribu? Apa penyebabnya? Apakah penyebab utamanya karena sedikit yang mampu menahan terjangan air yang bervolume begitu besar dalam waktu yang singkat, atau terjebak dalam reruntuhan bangunan yang tidak mampu menahan terjangan air, (kecuali beberapa tepat ibadah yang dibangun dengan campuran material yang benar), atau orang-orang yang berada digedung-gedung besar. Ataukah penyebabnya karena kita acuh dengan perkembangan teknologi yang sudah dimiliki dan dikembangkan negara lain yang memiliki keadaan geologi mirip seperti negara kita yakni, sistem peringatan dini tentang potensi terjadinya tsunami sesaat setelah terjadinya gempa?

Saya tidak mencoba untuk berdebat, apalagi nyalahkan pihak-pihak tertentu, semua kejadian itu ada alasannya. Setiap orang berhak untuk mengambil sendiri pelajaran yang dianggapnya berguna bagi dirinya, pertanyaan-pertanyaan di atas saya buat hanya bertujuan untuk menggugah hati kita supaya kita bersama-sama dapat merenungkan apa kesalah-kesalahan kita di masa lalu)

Alam sesungguhnya memberikan ruang bagi kita untuk berusaha mengerti keadaannya dengan lebih baik, memberikan waktu untuk saling memahami satu sama lain. Alam adalah penegak hukum yang paling perkasa, memastikan sistem berjalan dengan baik. Tuhan memberikan kewenangan itu kepadanya tentu karena alasan yang kuat, dan manusia hadir untuk membantu bagian akhir dari perjalanan alam ini, “peleburan” (baca catatan : Alam adalah penegak hukum yang paling perkasa)

Semua sudah disiapkan secara sempurna, termasuk pilihan-pilihan yang bisa dilakukan manusia, mau bersahabat lebih baik dengan alam dengan cara lebih mengerti dan memahami kebutuhannya atau hanya menjadi sahabat dekat jika kita perlu saja?

Waingapu 1 Oktober 2009


0 Responses to “The fellowship between human and nature (persahabatan antara manusia dengan alam)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: