26
Sep
09

Antara Penampilan, Teori dan Rasa beragama

Seorang guru agama di sebuah sekolah menengah pertama sedang berbagi ilmu kepada siswanya, guru itu menyuruh siswanya merasakan panasnya api yang dihasilkan korek api, dan mengatakan bahwa panasnya api neraka lebih panas dari api yang menyala dari sebatang korek api. Guru itu kemudian menyundutkan korek api yang sedang menyala itu ke pipi seorang siswi yang wajahnya lumayan cantik, akibatnya? Oh…bukan hanya panas dan sakit yang ia rasakan, pipinya juga bolong karena luka bakar ringan…bekas luka itu tentunya gak akan sembuh secepat guru itu melupakan pelajaran hari itu. Ya…guru itu memang pintar menciptakan “neraka” kecil bagi siswi itu….alih alih mengajarkan supaya siswanya takut kepada neraka, yang ada malah perasaan minder yang akan dihadapi siswi itu karna mukanya jadi bopeng…

Apa sih yang salah? Apakah agama musti kita salahkan karena mengenalkan suatu tempat yang bernama “Suarga loka dan Kawah Candradimuka”? “Surga dan Neraka” nggak ah…teks-teks agama itu punya tujuan tertentu, agama bukan pengetahuan hapalan biasa, semuanya punya makna yang sangat dalam dan jika dipelajari dengan benar akan menuntun kita mengoperasikan mesin yang bernama “manusia” ini dengan lebih baik, gak cepet rusak.. (mirip seperti saat kita membaca buku petunjuk/ petunjuk manual penggunaan kendaraan bermotor)

Berangkat dari kenyataan-kenyataan kehidupan inilah kita harus mulai berhenti terpaku kepada penampilan dan teori apalagi bermain-main dengan logika. Saya tidak mengatakan bahwa logic itu gak penting, apalagi teori…penting itu!. Tapi bukan segala-galanya

Coba kita mikir sama-sama, berapa sering kita sudah tertipu oleh penampilan? seberapa sering kita sudah disesatkan oleh logika?? kita bisa hitung sendirilah… Saya pikir yang perlu mulai dilakukan adalah merasakan agama, terasa gak sih agama itu di hati kita? atau semuanya cuman soal takut sama Tuhan? Tuhan gak perlu ditakuti ah…yang perlu ditakuti justru kita sendiri…yang bikin perang siapa? yang bikin korupsi siapa? coba hitung tragedi kemanusian yang terjadi di seluruh dunia, berapa yang akibat bencana alam yang memang tidak bisa dihindari dan berapa banyak tragedi kemanusian bikinan manusia?? Pemenangnya udah ketahuan kan?!

Seremoni-seremoni keagamaan begitu riuh, niat untuk menunjukkan identitas keagamaan sangat menggebu gebu, sehingga kita dimanjakan oleh penampilan-penampilan manusia yang terlihat begitu elegan dengan identitas agamanya, jutaan ayat-ayat suci dari agama apa saja tersebar ke pelosok dunia baik melalui perusahaan content provider, website, telepati dan segala macam cara….berapa juta jam dilalui oleh bangsa ini mendengarkan teori-teori agama dalam acara semacam Dharma Wacana di Pura, di sekolah, di Kantor, dimana saja. Kalau itu semua berhenti sebagai suatu tujuan, maka Agama menjadi hambar, rasanya gak enak….seperti makanan tanpa garam…. Rasa itulah (kalau tidak bisa saya katakan seharusnya, paling tidak saya setuju dengan pendapat itu karena tentu akan ada pendapat yang berbeda yang saya harus hargai) yang sebaiknya menjadi tujuan, supaya agama bisa dirasakan, merasuk di dalam setiap perkataan dan perbuatan.

Waingapu, 27 Agustus 2009


0 Responses to “Antara Penampilan, Teori dan Rasa beragama”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: