22
Agu
09

Miangas

Saya terharu ketika membaca sebuah berita foto di Kompas hari ini, judulnya “Jangan menangis Miangas” …. Miangas (saya juga baru tau nama pulau ini) adalah sebuah pulau kecil di daerah Sulawesi Utara seluas 3,15 Km persegi. Listrik hanya menyala mulai pukul 17.30 sampai pukul 23.30, kehidupan masyarakat yang bergantung dari aktivitas mencari ikan terganggu karena kesulitan bahan bakar. Sinyal telepon seluler hanya bisa menghubungkan tujuh penelpon pertama, sehingga yang selebihnya harus menunggu giliran, tapi coba simak apa kata Pak Matias Kampongsina (62tahun) yang merupakan warga asli Miangas : “Apapun kondisinya, ini tanah kami, kami ingin hidup dan mati disini!”

Selama ini banyak sekali cerita-cerita yang mengharukan seperti cerita di atas diangkat di media elektronik atau cetak, bahkan sering tanpa kita sadari peristiwa-peristiwa yang menyedihkan seperti itu terjadi tidak jauh dari tempat tinggal kita. Mungkin saja cerita ini terasa lebih mengharukan ketika kita sedang merayakan kemerdekaan kita yang ke 64. Saya kemudian berkhayal, hmm….tentu agak aneh jika suatu ketika ada peristiwa dimana seseorang yang tinggal di daerah yang lebih baik, punya pekerjaan yang baik, berpenghasilan 5-10 juta sebulan, punya isteri dan satu anak yang sehat, tapi setiap harinya selalu merasa tertekan dan mengeluh karena penghasilannya hampir habis untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, isterinya suka belanja barang-barang mewah, dia sendiri lebih memilih mencicil utang demi keinginannya untuk memiliki mobil mewah dan rumah mewah daripada menabung untuk keperluan masa depan anaknya yang sekarang baru berumur 5 tahun…

Kita harus mulai belajar dari perjuangan hidup Pak Matias Kampongsina dan keluarga-keluarga lain di seluruh Indonesia yang bertahan hidup dengan kesederhananannya ditengah berbagai macam persoalan ekonomi dan politik…

Terimakasih bagi para suami dan isteri yang selama ini menjaga “tabungan keluarga” mereka dengan baik., yang sudah mau hidup dengan sederhana dan sering saling mengingatkan jika sewaktu-waktu gaya hidup mereka mulai boros.

Terimakasih untuk semuanya yang masih tegas mengatakan ingin tetap bertahan hidup sebagai bagian dari bangsa Indonesia ..apa adanya.

Waingapu, 18 Agustus 2009


0 Responses to “Miangas”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: