22
Agu
09

KEGALAUAN HATI ORANG TUA DAN KEBESARAN HATI SEORANG ANAK…

Tadi malem sekitar jam 19.30, Pak Putu menelpon saya, dia ngundang saya ke rumahnya (saya udah tau diajak makan, soalnya pas kerja bakti tadi di pura dia udah bilang, ngasi tau supaya mampir kerumah – maklum sehari menjelang hari raya Galungan begini biasanya orang hindu bali punya banyak makanan dirumah, jadi mereka prihatin sama bujangan lokal yang terlantar kayak saya ini..hehehe) ….trus saya bilang, “ya pak ‘ ntar lagi saya kesana, lagi makan bentar nih..”, “ah…ngapain makan, kata pak Putu….“ya pak…makan dikit aja, ntar makan lagi dirumah bpk…hehe”
Pak Putu ketawa aja…

Terakhir saya berkunjung kesana setahun yang lalu…hari Galungan pertama saya di Sumba Timur, Beliau ini berprofesi sebagai guru SMU. Isterinya bekerja sebagai Tenaga Medis. karna lama gak ketemu kita ngobrol mulai dari soal politik sampe ikan teri…saya tertarik sama dua hal saat itu….*lawar ayam campur kacang panjang…hehehe dan soal anaknya yang pertama yang udah mulai kuliah di fakultas Ahli Gizi Universitas xxxxxxxxx. Ada cerita menarik soal anaknya ini…Pak Putu cerita, anaknya setelah lulus SMU, dia mendapat PMDK untuk kuliah di Fakultas Kedokteran salah satu Perguruan Tinggi di Indonesia. Ada dua jalur yang bisa diikuti calon mahasiswa untuk berkompetisi…jalur umum dan jalur khusus, jalur umum minimal harus menyumbang 25 juta dan jalur khusus. saya lupa nominal sumbangan untuk jalur khusus…..(saya juga lupa nanya apa uang itu disetorkan setelah lulus testing atau sebelum testing…tadinya saya pikir ga penting) Menurut orang tuanya, anak ini pintar secara akademis….prestasinya di sekolah baik. Saya pernah bertemu dengannya di Bandara El Tari, ketika saya akan berangkat menuju Makassar setahun yang lalu…dia bilang abis mengikuti lomba olimpiade kimia, (kalo gak salah dapet rangking III besar, entah nomor berapa, lupa saya….)

Walaupun saya ga mengamati perkembangan prestasinya akademisnya secara pasti…tapi saya pernah menilai kemampuannya dalam membawakan ceramah agama dalam suatu lomba. (saat itu, Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia Sumba Timur, Seorang Guru SMU dan saya, menjadi dewan jurinya) Dia juara I. Lomba itu memang tidak bisa membuktikan tingkat kemampuannya secara keseluruhan, khususnya berkaitan dengan tes masuk Fakultas Kedokteran itu, lagi pula lomba itu juga tentang pengetahuan agama. Tetapi setidaknya dari informasi yang saya dapatkan, saya mendapat gambaran bahwa apa yang diceritakan orang tuanya ttg prestasi anaknya ga jauh beda dari kenyataannya…

Pak Putu cerita : “Pak, kami gak usah lagilah bermimpi anak bisa jadi Dokter, tes aja belum dijalani, kita udah terganggu oleh sumbangan puluhan juta ini…saya berusaha menyediakan 25 juta itu, demi anak saya. Dari sisi akademis dia mampu pak….tapi ngeliat mereka yang menempuh jalur khusus menyumbangkan uang ratusan juta…..gimana kompetisi itu berjalan dengan baik?? Saya kemudia iseng bertanya “apa kuota untuk mahasiswa jalur umum dan jalur khusus itu udah ditentukan jumlahnya??” Pak Putu bilang “gak ketauan pak…yang keliatan cuman berapa jumlah keseluruhan Mahasiswa yang akan diterima!” … saya cuman bilang “owh begitu…?!”

Saya gak bisa berkomentar lebih lanjut, karena banyak sekali pertanyaan yang muncul kemudian dipikiran saya yang rasanya tidak tepat jika diungkapkan dalam suasana seperti ini, apakah hasil testingnya emang jelek trus gak keterima?? Apakah calon Mahasiswa dari jalur umum emang kuotanya lebih sedikit dibandingkan dengan yang jalur khusus?? Apa sih bedanya jalur umum dan jalur khusus? Kayak jalur busway aja?!?! apa sumbangan yang sampe ratusan juta itu mempengaruhi kelulusan? Kok mahal banget ya mau daftar kuliah aja?? Dulu saya setelah lulus tes, cuman bayar uang pembangunan 300 ribu. (kuliahnya di fakultas hukum sih…bukan kedokteran hehehe) 15 tahun yang lalu saya gak pernah denger kakak saya yang alumnus Fakultas kedokteran ngobrolin aturan yang seruwet itu dengan bapak waktu mau kuliah disana. Kalo harga buku2 dan alat-alat penunjangnya emang mahal…saya tau. bukunya aja kayaknya anti rayap tuh…dan saya paling suka kalo liat2 atlas anatominya hehehe… tapi kan itu udah kuliah!! Ini boro-boro kuliah…..baru mau daftar aja udah ruwet, apalagi pinjeman di BRI blm lunas…ahhh!

Pak Putu bilang kalo dia udah nyaranin anaknya ikut tes lagi, berusaha lagi …tapi karena kebetulan keterima juga di Fakultas Ahli Gizi ini, anaknya bilang “Udahlah pak…saya kuliah di Fak. Ahli Gizi ini aja….gak usah lagi tes di Fak Kedokteran itu…” “Anak saya memang gak berambisi, dia mungkin gak mau nyusahin orang tuanya, dia berjiwa besar”..kata Pak Putu… saya cuman berkomentar…”seharusnya dia gak memikul beban itu ya pak, seharusnya orang tua dan Negara yang memikulnya.”… kami berdua tertawa kecil…

Tidak lama kemudian, kami makan bersama…..dan melanjutkan ngobrol soal agama, sampe jam setengah sebelas….karena keliatan Pak Putu mulai ngantuk. Saya tau diri dan pamit pulang…

Di perjalanan pulang saya teringat salah satu kejadian menggelikan yang pernah dialami teman saya. Dia pernah sakit perut, mules2…bukan diare! Dia pergi ke klinik deket rumahnya…disana dia diperiksa dokter. Trus entah kenapa dokternya nyaranin supaya teman saya ini cari dukun aja yang khusus menangani penyakit perut seperti itu…soalnya gak bisa disembuhin secara medis. Heh?? Saya baru denger tuh…….!! (Teman saya cerita sambil ketawa2 jadi saya ikut ketawa juga sambil terheran-heran….) Tapi dia nurut aja…dokter aja ngomong gitu, siapa lagi yang musti dipercaya kalo sakit?? Nah…cari dukunlah dia …sampe tiga kali!! tapi gak sembuh juga. Akhirnya dia kerumah sakit…diperiksa dokter senior disana…setelah diperiksa dokternya bilang “ Bpk kena Kolik! Saya akan kasi obat…”gak lama setelah disuntik …teman saya merasa jauh lebih baik….trus dikasi pulang sama dokter. Dia sempat cerita juga sama dokter itu soal disaranin cari dukun…dokter senior itu cuman kaget dan geleng2 kepala aja.

Saya minta maaf sama temen-temen dokter, cerita ini bukan soal dokter…kalo kebetulan yang diceritakan menyangkut profesi dokter, itu cuman kebetulan aja yang saya alami…kejadian ini bisa terjadi disemua bidang profesi. Ketika ukuran yang digunakan untuk menilai seseorang apakah dia layak menekuni bidang tertentu, tidak difokuskan dari kemampuan dan minat yang ada pada dirinya, maka kejadian-kejadian memperihatinkan seperti di atas akan tetap terjadi….

Apa sih yang bisa dilakukan sehingga nantinya tidak lebih banyak lagi anak anak yang punya potensi besar terpaksa melepaskan impiannya, berusaha berjiwa besar menerima kenyataan bahwa kesempatannya jatuh ketangan orang2 yang tidak bertanggung jawab atau orang-orang yang tidak serius menginginkan kesempatan itu??

Siapa saja yang ngerasa selama ini gak bertanggung jawab, mulailah berubah….karena sangat mungkin anda sudah merebut impian orang2 yang sebenarnya lebih mampu dari anda untuk menjalankan tugas yang dibebankan pada anda sekarang….

Waingapu, 18 Maret 2009


0 Responses to “KEGALAUAN HATI ORANG TUA DAN KEBESARAN HATI SEORANG ANAK…”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: