22
Agu
09

Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Salam sejahtera, Selamat pagi dan Om Swastiastu

Kali ini saya harus catat ini…harus.! (begitu saya bergumam dalam hati ketika mendengar salam pembuka yang bernuansa agama ini diucapkan “lengkap” untuk yang ketiga kalinya) Sebenarnya hati saya mulai terketuk ketika mendengar narasumber mengucapkan salam pembuka yang hampir lengkap itu sebulan lalu di acara lokakarya yang diadakan oleh sebuah organisasi internasional yang bergerak di bidang penanganan imigran gelap. Di akhir acara saya sempat berbincang dengan seorang teman saya yang kebetulan tentara, saya bilang…”mas, udah lama saya gak dengar salam pembuka yang lengkap begitu”, teman saya menjawab, “ah..kalau di militer itu biasa, salamnya pasti lengkap…” hanya saja posisinya di bolak balik tergantung dari agama yang dianut oleh yang mengucapkannya.

Saya kemudian berpikir, “oh…emang saya aja yang kuper”….kejadian hari itu kemudian terlupakan

Tapi, beberapa saat yang lalu diacara pisah kenal teman saya salah seorang pimpinan salah satu cabang BUMN di Waingapu yang akan pindah ke tempat tugas yang baru, saya mendengar lagi salam pembuka yang “lengkap itu” dua kali malah…. satu diucapkan oleh Bapak yang menggantikan rekan saya itu dan yang kedua diucapkan oleh Pimpinan wilayahnya. Saya teringat lagi kejadian di Lokakarya sebulan yang lalu. Ini sudah yang ketiga kalinya bulan ini saya mendengar hal sama”…

Saya ingat pernah mendengar salam pembuka seperti itu, kira-kira 10 tahun yang lalu di Kampus, ketika saya masih kuliah. Saat itu saya jadi anggota panitia Yudisium, ada seseorang yang memberikan sambutan dan mengawali sambutannya dengan salam pembuka agama yang lengkap… saya lupa siapa orangnya. waktu itu saya senang mendengarnya. Mungkin saja saya pernah mendengar lagi diantara rentang waktu itu, saya tidak ingat lagi dan suasana hati saya dulu tidak setertarik sekarang ini mendengarnya….saya tidak tahu kenapa. 10 tahun kemudian, dalam waktu sebulan, saya mendengar lagi salam ini (yang ditujukan kepada semua yang hadir) selama tiga kali …. perasaan saya semakin senang mendengarnya. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian, kenapa saya senang? padahal saya sendiri sebenarnya jarang mengucapkan salam pembuka yang bernuansa Agama itu (diluar kegiatan keagamaan). Dalam suatu kegiatan tertentu yang mengharuskan saya berbicara di depan orang banyak, saya lebih senang mengucapkan kalimat pembuka “selamat pagi, selamat siang atau selamat malam, kemudian dilanjutkan dengan “puji syukur kita panjatkan kehadapan Tuhan yang Maha Esa dst…” sesekali saja saya mengucapkan salam pembuka yang bernuansa agama di acara-acara diluar acara ritual agama.

Mungkin saja perasaan itu adalah rasa senang karena diperhatikan, senang karena keberadaan kita dihargai, senang karena keyakinan kita yang berbeda ternyata dihormati atau senang hanya karena sudah lama tidak mendengar kemudian sekarang mendengar lagi. Alasan pertamalah yang paling pertama muncul dipikiran saya karena saya pikir toleransi yang sesungguhnya tentu akan terlihat dari sikap dan perilakunya kemudian, tidak bisa dibuktikan hanya dari satu kalimat salam pembuka yang lengkap itu. Namun paling tidak kalimat itu menyejukkan hati….menenangkan hati, ditengah gejolak sosial yang sedang terjadi sekarang ini.

Harapan saya tentunya salam itu tidak diucapkan lengkap karena kebetulan pejabat-pejabat atau tokoh masyarakat yang hadir disana terdiri dari orang orang yang keyakinannya berbeda beda, tapi salam yang lengkap juga tetap diucapkan di acara-acara yang dihadiri oleh orang-orang kecil, pegawai rendahan, petani, buruh-buruh….sehingga mereka juga bisa merasakan indahnya sebuah perhatian, sebuah penghargaan dan penghormatan terhadap keyakinan yang berbeda. Merasakan indahnya embrio toleransi tanpa embel-embel yang macam macam

Om, Santih, Santih, Santih, Om

Waingapu, 18 Agustus 2009


0 Responses to “Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Salam sejahtera, Selamat pagi dan Om Swastiastu”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: