22
Agu
09

APAKAH AGAMA BERMANFAAT BAGI KITA? (Sebuah renungan untuk menyambut hari raya Nyepi)

Tulisan ini memang berbau Hindu, tetapi tulisan ini tidak khusus untuk orang yang beragama Hindu, saya tidak ingin tulisan ini dibaca hanya oleh orang yang kebetulan beragama Hindu, saya hanya merasa belum mampu menyampaikannya dalam suasana yang lain daripada suasana KeHinduan, sebagai agama yang saya yakini dan saya pelajari sampai sekarang.
Ketika saya membaca tulisan Bapak Nyoman S. Pendit dalam buku sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan Tokoh-Tokoh Hindu yang berpengaruh saya merasa sangat tercerahkan. Sebagai orang yang beragama Hindu namun awam tentang sejarah Weda, apa yang disampaikan oleh Bapak Nyoman S. Pendit begitu terang, sederhana dan gampang dimengerti. Sepertinya saya sedang membaca buku cerita anak-anak, atau cerita bergambar (semacam karya R. Kosasih tentang Bharata Yudha dan Parikesit yang terkenal itu) sejarah perkembangan Weda sangat panjang, Ia membentuk kerak-kerak sejarah, membentuk pola-pola pikir yang unik tentang bagaimana Manusia selalu berusaha mengaplikasikan agama dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan zamansejak masa Reg. Veda sampai Bhagawadgita yang beliau terangkan dengan sederhana membuat saya semakin yakin bahwa hanya satu yang kekal di dunia yang mampu kita pikirkan, yaitu : Konsep keTuhanan akan selalu berubah, membentuk zaman(bukan mengikuti jaman) pikiran dan perbuatan manusialah yang pada hakekatnya membentuk lapisan zamanini dan pada saat Agama diperkenalkan dalam bentuk tulisan, saat itulah Ia menjadi faktor terpenting dalam penciptaan istilah yang dipergunakan dalam setiap jaman. Saya menggunakan istilah lapisan zamankarena terinspirasi dengan lapisan tanah yang dapat memberikan kita banyak petunjuk mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada masa tertentu.
Kenapa Saya katakan teks Agama menjadi salah satu faktor terpenting? karena Ia menjadi referensi yang paling mudah digunakan untuk menilai ataupun mengatur apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang boleh dilakukan, apa yang seharusnya dilakukan, apa yang dilarang, dan sebagainya. Kita bisa melihat dan membaca dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berlaku saat ini di Indonesia, gaya bahasanya seperti gaya bahasa dalam kita suci. Inilah pengaruh nyata dari teks agama dalam kehidupan kita sehari-hari.
Di Indonesia, beragama adalah hal yang wajib. Akan dianggap aneh jika ada orang Indonesia yang mengaku tidak beragama atau bahkan mengaku tidak percaya dengan adanya Tuhan. Menjalankan ajaran-ajaran universal sebuah Agama yang sesungguhnya lebih wajib lagi, lebih banyak dikesampingkan. Inilah keadaan yang sering disebut masyarakat dengan beragama KTP.
Beragama tidak harus identik dengan atribut-atribut yang khas, atau berbicara dengan gaya yang khas yang berbau keagamaan. Beragama adalah soal menggunakan agama sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan. Semua tujuan agama sama, “membuat dunia ini lebih baik untuk menjadi tempat tinggal seluruh mahluk hidup”. Hanya saja, kembali lagi kepada perjalanan sejarah agama itu sendiri, seperti yang saya ungkapkan di atas, pada periode tertentu dalam sejarah kehidupan manusia, kebutuhan fisik dan psikologis serta perkembangan politik (politik saya artikan disini sebagai kekuasaan yang digunakan untuk melaksanakan suatu tujuan) sangat mempengaruhi manusia dalam menterjemahkan tujuan hidup di masanya. Saya akan mencoba memberikan ilustrasi : Seperti seorang pemuda yang hidup di negara yang sedang dilanda perang. Setiap hari Ia harus bertahan agar Ia tidak mati terbunuh oleh musuh. Dia akan berusaha untuk mempompa semangatnya, berpikir bagaimana caranya tetap hidup. Jika suatu ketika dia membaca Kitab Agama, dalam keadaan seperti itu tentu Ia cenderung akan mencari referensi yang cocok bagi keadaan pada saat itu. Bagaimana mengatasi rasa takut kita, bagaimana caranya mempergunakan rasa takut itu sebagai alat untuk mempertajam kewaspadaan kita, bagaimana caranya membuat taktik yang baik agar kita bisa bertahan atau bahkan melawan musuh dan sebagainya. Lain halnya dengan pemuda yang hidup dalam suatu wilayah yang tenang, damai, bahkan saking tenangnya, wilayah itu tidak memiliki aparat khusus yang bertugas menjaga ketertiban. Jika pemuda yang saya sebutkan terakhir ini suatu saat membaca Kita Agama, kecenderungannya adalah Ia akan mencari bagian tentang bagaimana dunia ini bisa diciptakan sedamai ini, bagaimana seharusnya Ia bersyukur kepada Sang Pencipta, bagaimana menikmati kedamaian ini.
Ilustrasi di atas bukanlah menjadi patokan bahwa itulah yang pasti terjadi, tetapi saya hanya mengungkapkan kemungkinan kecenderungan yang akan timbul bahwa situasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas keagamaan seseorang. Bagi kedua pemuda di atas, ketika mereka menemukan jawabannya dalam kita suci agama, mereka menganggap bahwa agama telah bermanfaat.
Apa yang menjadi patokan agar kita bisa menilai bahwa agama telah bermanfaat bagi kita ?
1. Jika Agama sudah menjadi kendaraan untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri
Apakah Tujuan Agama? Dalam agama Hindu, yang menjadi tujuan adalah “Atmanam moksartham jagaddhitaya ca”. yang berarti mencapai kelepasan, kebebasan atau kesempurnaan roh, kesejahteraan umat manusia, kedamaian dan kelestarian dunia. Inilah idealnya, lalu bagaimana cara mengaplikasikan tujuan yang begitu ideal itu? Kenyataannya dunia memang tidak sesempurna itu,, lalu apakah kita masih punya kewajiban untuk meraih tujuan agama itu? YA! Harus… karena pada dasarnya jika seseorang bergerak, maka ia tentu akan menuju ke suatu tempat. Ada yang setiap pagi kekantor dengan mengendarai sepeda motor, sepeda gayung, becak, mobil jalan kaki, dsb. Ada yang suatu ketika ingin jalan2 keliling kota mengendarai mobil, tujuannya ya keliling-keliling saja. Kalo kendaraannya agama tujuannya apa?
Bagi seorang tukang sapu jalan yang beragama, maka caranya mengaplikasikan agama dalam kehidupan sehari-harinya adalah dimulai dari menyapu jalan dengan sebaik-baiknya, sebersih-bersihnya, sesempurna mungkin tanpa peduli apakah nantinya ada orang yang memberikan pujian ataukah dengan kebersihan jalan itu nantinya akan diberikan penghargaan dari Bupati atau nantinya gajinya akan dinaikkan dan lain sebagainya. Ia harus melakukan itu karena memang itulah yang seharusnya dilakukan. Jika Ia penjual es campur, maka cara mengaplikasikan agama yang paling mudah adalah menjual es campur dengan mengharapkan untung sebanyak-banyaknya namun tidak membahayakan pembeli. Jangan menggunakan pewarna yang bukan diperuntukkan untuk makanan, gunakan air yang sudah dimasak untuk membuat es, bersihkan alat-alat untuk membuat es campur itu dengan baik, jangan mengorbankan pembeli hanya karena ingin memperoleh untuk yang lebih banyak, jadikan es campur itu sempurna untuk dimakan. Kedua orang yang saya sebutkan di atas adalah orang-orang yang sangat berpeluang menjalankan salah satu ajaran agama yang paling utama dalam agama hindu yaitu Karma Yoga (bekerja sebaik-baiknya sesuai dengan tugasnya masing-masing) jika mereka sudah secara sadar melakukan itu secara terus menerus sampai akhirnya mereka tidak mampu lagi bekerja, maka tujuan agama sudah tercapai “kesempurnaan si tukang sapu dan penjual es campur”.
2. Apakah beragama membuat kita bahagia?
Sering kita dengar keluhan-keluhan menyatakan bahwa banyak sekali kesalahan dalam pelaksanaan agama! “tidak sesuai dengan aslinya” pelaksanaan agama terlalu rumit, kurang simple, hanya buang-buang uang dan energi. Yang merasa benar menyalahkan atau memojokkan, yang merasa terpojok melawan dengan dengan segala cara. Dan yang menyedihkan ini terjadi dalam satu kelompok agama. Yang menang jadi abu yang kalah jadi arang. ini telah terjadi selama sejarah perjalanan agama itu sendiri dan karena pikiran manusia selalu berubah. Yang membuat agama itu sendiri tetap ada adalah karena unsur universalnya lebih kuat dari unsur-unsur pendukungnya. Dan yang membuat saya risau justru bukan karena saya takut karena salah menggunakan agama secara formal (dalam pengertian ritual keagamaan), tapi saya justru takut akhirnya perdebatan ini membuat kedamaian terusik, kemudian lahirlah situasi dimana teks-teks agama dikutip-kutip untuk membenarkan pendapat satu kelompok yang bisa menjatuhkan kelompok lain. Jika situasi seperti ini sudah terbentuk dan memenuhi pikiran kita maka kita tidak bahagia lagi sehingga bisa disimpulkan agama sudah tidak bermanfaat.
3. Mampukah agama berkolaborasi dengan baik dengan budaya dan kebiasaan yang ada sebelum agama itu dikenal dalam suatu daerah.
Nilai-nilai universal yang akhirnya dibawa masuk oleh agama sesungguhnya sudah dikenal dan terbentuk dalam budaya lokal. Hubungan antara manusia dengan manusia? Hubungan antara manusia dengan alam, hubungan Manusia dengan Tuhan.
Beragama dalam keadaan masyarakat seperti sekarang tentu tidak bisa dilaksanakan seperti halnya pada zaman Reg. Veda, hanya bagian-bagian tertentu yang setelah dipertimbangkan dari berbagai sisi, tetap dilaksanakan. kalo dipaksakan dilaksanakan seperti jaman dulu sih bisa saja, tapi apa banyak gunanya untuk sekarang? Agama tidak lagi pragmatis kan?! Agama tidak lagi Up to date, agama tidak lagi asyik, sedangkan wajah persoalan yang dihadapi manusia sekarang sudah banyak berubah.. agama akan menjadi cerita usang yang akan ditinggalkan begitu saja. Agama diciptakan bukan untuk dicampakkan begitu saja. Jadi jangan mulai mencampakannya. Mulailah menggunakannya dengan bijak sehingga memberikan manfaat dan kehidupan kita bisa lebih baik.

Semoga kebaikan datang dari segala penjuru

Waingapu, 6 Maret 2008


0 Responses to “APAKAH AGAMA BERMANFAAT BAGI KITA? (Sebuah renungan untuk menyambut hari raya Nyepi)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: